Pengertian Gagal Ginjal Kronik

Gagal ginjal kronik (GGK) adalah kasus menurun fungsi ginjal yang terjadi secara akut (kambuhan) maupun kronik (menahun). Dikatakan gagal ginjal kronik (acute renal falture), tetapi kemudian dapat kembali normal setelah penyebabnya dapat segera diatasi. Gagal ginjal kronik sama dengan hipertensi, penyakit ikutan yang saling berkaitan, termasuk silent killer yaitu penyakit mematikan. (Vita Health, 2008). 

Prevalensi gagal ginjal kronik menurut WHO (2009) dan Global Burden Ofdisease (GDB), penyakit gagal ginjal kronik menyumbang 850.000 kematian tiap tahunnya, Hal ini berarti menduduki peringkat 12 (dua belas) tertinggi angka kematian atau peringkat tertinggi angka kecacatan (Andra, 2008). Di Amerika Serikat pada tahun 2008 diperkirakan 6 (enam) juta – 20 (dua puluh) juta individu yang menderita gagal ginjal kronik dari seluruh penduduk. Sedangkan di negara Jepang pada akhir tahun 1996, ada 167 (seratus enam puluh tujuh) penderita gagal ginjal kronik, dan pada tahun 2000 terjadi peningkatan menjadi lebih dari 200 (dua ratus) ribu penderita. (Hendra, 2008). 

Penderita gagal ginjal kronik yang memerlukan hemodialisis, di Amerika mencapai 450.000 pasien (Fauci dkk, 2008). 
http://ayuarifahharianja.blogspot.com/

Penyakit ginjal ini memiliki beberapa tahapan seperti ringan, sedang atau berat (Suhardjono, 2003). Gangguan ginjal yang telah berada pada tahap berat ditunjukkan dengan ketidak mampuan ginjal membuang sisa-sisa zat metabolisme dari dalam tubuh. Gangguan ginjal yang telah berada pada tahap berat ditunjukkan dengan ketidakmampuan ginjal membuang sisa-sisa zat metabolisme dari dalam tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh dipenuhi dengan air dan racun sehingga timbul gejala seperti mual, muntah dan sesak napas yang memerlukan hemodialisis darah sesegera mungkin (Indonesian Kidney Care Club/IKCC, 2008). 

Hemodialisa merupakan salah satu terapi pengganti ginjal yang paling banyak dipilih oleh para penderita gagal ginjal terminal. Pada prinsipnya terapi hemodialisa adalah untuk menggantikan kerja dari ginjal yaitu menyaring dan membuang sisa-sisa metabolisme dan kelebihan cairan, Membantu menyeimbangkan unsur kimiawi dalam tubuh serta membantu menjaga tekanan darah (Yayasan Ginjal Diatrans Indonesia, 2008). 

Kasus baru gagal ginjal kronik di Indonesia dari data di beberapa pusat nefrologi diperkirakan berkisar 100 (seratus) – 150 (seratus lima puluh) per 1 (satu) juta penduduk, sedangkan prevalensinya mencapai 200 (dua ratus) – 250 (dua ratus lima puluh) per 1 (satu) juta penduduk. Berdasarkan hasil studi dokumentasi dari bagian pencatatan dan pelaporan di ruang melati lantai 2 (dua) rumah sakit pusat dr.Hasan Sadikin Bandung, tercatat selama kurun waktu bulan Januari sampai dengan April 2008, klien yang dirawat dengan gagal ginjal kronik mencapai 22 (dua puluh dua) orang dengan persentase 27,5 % dari seluruh penyakit pada ginjal (Nasrul, 2008). 

Berdasarkan data yang diperoleh Yayasan Ginjal Nasional (Yagina, 2008), 6,7 % dari penduduk Indonesia sudah mempunyai gangguan fungsi ginjal dengan tingkatan sedang sampai berat, dengan trend yang meningkat sesuai dengan kemajuan sebuah negara yang merubah pola konsumsi masyarakatnya. Pengobatan dan perawatan sakit ginjal di Indonesia terhambat oleh tiga faktor utama, yaitu terbatasnya dokter ahli ginjal, terbatasnya fasilitas dialisis dan pusat-pusat perawatan ginjal, dan sulit mendapatkan donor ginjal untuk melakukan cangkok ginjal. 

Faktor resiko gagal ginjal kronik, yaitu pada pasien dengan diabetes melitus atau hipertensi, obesitas atau perokok, berumur 50 tahun, dan individu dengan riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal dalam keluarga (National Kidney Foundation, 2009). 

Studi case control di Swedia yang melibatkan 926 kasus dan 998 kelompok kontrol yang diamati selama tahun 1996-1998 menemukan bahwa terdapat korelasi antara gaya hidup merokok, kelebihan berat badan, intake protein terhadap gagal ginjal kronik. Kebiasaan merokok meningkatkan risiko mengalami gagal ginjal kronik sampai 52% dibandingkan tidak merokok, Meskipun tidak ada hubungan antara banyaknya rokok yang dihisap setiap hari dan lama kebiasaan tersebut telah dilakukan, Demikian halnya dengan kelebihan berat badan pada dewasa awal dan obesitas sangat berhubungan dengan meningkatnya risiko mengalami gagal ginjal kronik, Pada BMI (body mass index) lebih dari 30 kg/m2 pada laki-laki dan 35 kg/m2 pada wanita meningkatkan risiko 3 sampai 4 kali mengalami kerusakan ginjal. Sedangkan kebiasaan diet tinggi protein, menyebabkan seseorang mudah menderita diabetes yang memicu terjadinya nefropati diabetes yang menyebabkan gagal ginjal kronik (Elisabeth, 2005). 

Berdasarkan umur dapat meningkatkan kejadian gagal ginjal kronik. Dengan bertambahnya umur, risiko terkenak diabetes lebih besar. Pada umumnya tinggi protein akan meningkatkan dengan bertambahnya umur terutama setelah 45 (empat puluh lima) tahun. Prevalensi gagal ginjal kronik di Indonesia pada golongan umur dibawah 45 (empat puluh lima) tahun masih berada di bawah 10 (sepuluh) %, Tetapi di atas 45 (empat puluh lima) tahun angka tersebut terus meningkat mencapai 20 (dua puluh) – 30 (tiga puluh) %, Sehingga ini sudah menjadi masalah yang serius untuk diperhatikan (Depkes RI, 2006). 

Hasil penelitian menunjukkan karekteristik responden pada umunya berumur 40 (empat puluh) – 49 (empat puluh sembilan) tahun, lebih banyak laki - laki dan mempunyai masa kerja 25 (dua puluh lima) – 32 (tiga puluh dua) tahun, Sedangkan stress kerja guru lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki – laki. Prevalensi gagal ginjal kronik yang ditemukan dikalangan guru sebesar (13,8) % dan banyak terjadi pada golongan umur 50 (lima puluh) – 59 (lima puluh sembilan) tahun (Agustiwi, 2009). 

Menurut Ginting F. (2004) di RSUP.H.Adam Malik Medan , penderita gagal ginjal kronik terbanyak pada kelompok umur 45-59 tahun (43,1%). Menurut (Siregar, 2003) di RSU St. Elisabeth Medan, penderita gagal ginjal kronik terbanyak pada kelompok umur >45 tahun (69,8%). Menurut (Sinabariba R, 2002) di RSUP.H.Adam Malik Medan, penderita Gagal ginjal kronik terbanyak pada kelompok umur 49-57 tahun (23,4%). Menurut (Yulinda, 2002) di RSU Dr.Pirngadi, penderita gagal ginjal kronik terbanyak pada kelompok umur >45 (64,4) tahun. 

Penyakit gagal ginjal kronik juga merupakan masalah yang ditemukan pada anak. Pada tahun 1997-1999 di Inggris pada anak yang berumur di bawah 18 tahun 7,4/1.000.000. penduduk menderita gagal ginjal kronik pertahunnya. Di RSCM Jakarta antara tahun 1991-1995 ditemukan gagal ginjal kronik sebesar 4.9% dari 668 anak penderita penyakit ginjal yang dirawat inap, dan 2.6% dari 865 penderita penyakit ginjal yang berobat jalan (Romauli, 2009). 

Gagal ginjal kronik lebih sering dijumpai pada pria daripada wanita dikarenakan hormon estrogen yang dimiliki oleh wanita bersifat anti oksidan 24 Dari studi komparatif Choi dkk. (2001) terhadap penderita Nefropati Diabetik tahap akhir di RS. Yonsei Korea, penderita pria lebih banyak dari perempuan dengan perbandingan 3:2.9 Penelitian di Canada pada tahun 2001 menunjukkan bahwa penderita terbanyak penyakit gagal ginjal kronik adalah pria.25 Kasus gagal ginjal kronik di RS Dr. Moh.Hoesin Palembang tahun 2002 sebanyak 179 orang. Dari jumlah tersebut 63,68% merupakan pasien pria. 

Menurut (Ginting F, 2004) di RSUP.H.Adam Malik Medan , penderita gagal ginjal kronik terbanyak pada laki-laki (63,8%). Menurut (Siregar, 2003) di RSU St. Elisabeth Medan, penderita gagal ginjal kronik terbanyak pada laki-laki (56,2%). Menurut Sinabariba R. (2002) di RSUP.H.Adam Malik Medan, penderita gagal ginjal kronik terbanyak pada laki-laki (64,6%). Menurut (Yulinda, 2002) di RSU Dr.Pirngadi, penderita gagal ginjal kronik terbanyak pada laki-laki (62,5%) . 

Survei pendahuluan yang dilakukan peneliti dengan menggunakan data sekunder (berkas rekam medik pasien) di RSU Dr.Pirngadi Medan pada tahun 2009 - 2011 terdapat kasus sebagai berikut, tahun 2009 ditemukan sebanyak 276 kasus gagal ginjal kronik rawat inap, pada tahun 2010 didapatkan 306 kasus gagal ginjal kronik rawat inap, pada tahun 2011 terdapat 170 kasus gagal ginjal kronik rawat inap.Total jumlah penderita gagal ginjal kronik rawat inap sebanyak 752 kasus gagal ginjal kronik pada periode tahun 2009 - 2011. 

Dari data diatas terlihat angka kejadian gagal ginjal kronik masih tinggi dan berbagai upaya telah dilakukan, namun belum berhasil menurunkan angka tersebut, masyarakat belum mengetahui secara baik tentang faktor resiko yang dapat memicu terjadinya gagal ginjal kronik.

0 comments:

Post a Comment

 

Ilmu Kesehatan | Blog Yang Berkaitan Dinul Islami