Gagal ginjal kronik sudah
merupakan masalah kesehatan masyarakat diseluruh dunia (Perhimpunan Nefrologi
Indonesia, 2004). Laporan The United States Renal Date System (USRDS) pada
tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan populasi penderita gagal ginjal
kronik di Amerika Serikat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dimana prevalensi
penderita gagal ginjal kronik mencapai 1.569 orang per sejuta penduduk
(Warlianawati, 2007). Sedangkan jumlah penderita gagal ginjal di Indonesia saat ini terbilang tinggi, mencapai 300.000
orang
tetapi belum semua pasien dapat tertangani oleh para tenaga medis, baru
sekitar 25.000 orang pasien yang dapat ditangani, artinya ada 80 persen pasien
tak tersentuh pengobatan sama sekali (Susalit, 2012). Pengobatan bagi penderita
gagal ginjal kronik tahap akhir, dilakukan dengan pemberian terapi dialisis seperti
hemodialisa atau transplantasi ginjal yang bertujuan untuk mempertahankan
kualitas hidup pasien ((Brunner & Suddarth, 2002).
Kualitas hidup adalah sejauh mana
seseorang menikmati kemungkianan penting dalam hidupnya (University of Toronto,
2004). Kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi
hemodialisa masih merupakan masalah yang menarik perhatian para profesional
kesehatan. Pasien bisa bertahan hidup dengan menjalani terapi hemodialisa,
namun masih menyisakan sejumlah persoalan penting sebagai dampak dari terapi
hemodialisa. Mencapai kualitas hidup perlu perubahan secara fundamental atas
cara pandang pasien terhadap penyakit gagal ginjal kronis itu sendiri
(Togatorop, 2011).
Berdasarkan hasil penelitian
Yuliaw (2009), bahwa responden memiliki
karakteristik individu yang baik hal ini bisa dilihat dari usia responden
dimana yang menderita penyakit gagal ginjal paling banyak dari kalangan orang
tua yaitu sebanyak 26,9 %, dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 67,3 % dan
tingkat pendidikan SMA sebanyak 44,2 % dam kualitas hidup pasien gagal ginjal
kronik masuk dalam katagori tinggi yaitu 67,3 %. Hasil penelitian Yuliaw (2009)
menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara karakteristik individu dengan
kualitas hidup dimensi fisik pasien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Dr.
Kariadi Semarang. Hal ini menunjukkan semakin tinggi karakteristik seseorang
maka akan semakin baik pula kualitas hidupnya.
Karakteristik seseorang sangat
mempengaruhi pola kehidupan seseorang, karakteristik bisa dilihat dari beberapa
sudat pandang diantaranya umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan seseorang,
disamping itu keseriusan seseorang dalam menjaga kesehatannya sangat
mempengaruhi kualitas kehidupannya baik dalam beraktivitas, istirahat, ataupun
secara psikologis. Dan banyak orang yang beranggapan bahwa orang terkena
penyakit gagal ginjal akan mengalami penurunan dalam kehidupannya. Hal ini
menunjukkan bahwa karakteristik seseorang sangat mempengaruhi kualitas hidup
seseorang terutama yang mengidap penyakit gagal ginjal kronik (Yuliaw, 2009).
1.
Konsep Karakteristik
Karakter
(watak) adalah keseluruhan atau totalitas kemungkinan-kemungkinan bereaksi
secara emosional seseorang yang terbentuk selama hidupnya oleh unsur-unsur dari
dalam (dasar, keturunan, dan faktor-faktor endogen) dan unsur-unsur dari luar
(pendidikan dan pengalaman, serta faktor-faktor eksogen) (Sunaryo, 2004).
Karakteristik berarti
hal yang berbeda tentang seseorang,
tempat, atau hal yang menggambarkannya.
Sesuatu yang membuatnya unik atau berbeda. Karakteristik dalam individu adalah sarana untuk memberitahu satu terpisah
dari yang lain, dengan cara bahwa orang tersebut akan dijelaskan dan diakui. Sebuah fitur karakteristik dari orang yang biasanya satu yang berdiri
di antara sifat-sifat yang lain (Sunaryo,
2004).
Notoatmodjo (2010)
menyebutkan ciri-ciri individu digolongkan kedalam tiga kelompok yaitu:
1. Ciri-ciri
demografi, seperti jenis kelamin dan umur
2. Struktur
sosial, seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, kesukuan atau ras, dan
sebagainya.
3. Manfaat-manfaat
kesehatan, seperti keyakinan bahwa pelayanan kesehatan dapat menolong proses
penyembuhan penyakit.
3. Karakteristik
Pasien
Karakteristik pasien
meliputi usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, agama,
suku/budaya, dan ekonomi/penghasilan.
Usia
Usia (umur) adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau
diadakan). Usia meningkatkan atau menurunkan kerentanan terhadap penyakit
tertentu. Pada
umumnya kualitas hidup menurun dengan meningkatnya umur. Penderita gagal ginjal
kronik usia muda akan mempunyai kualitas hidup yang lebih baik oleh karena
biasnya kondisi fisiknya yang lebih baik dibandingkan yang berusia tua.
Penderita yang dalam usia produktif merasa terpacu untuk sembuh mengingat dia
masih muda mempunyai harapan hidup yang lebih tinggi, sebagai tulang punggung
keluarga, sementara yang tua menyerahkan keputusan pada keluarga atau
anak-anaknya. Tidak sedikit dari mereka merasa sudah tua, capek hanya menunggu
waktu, akibatnya mereka kurang motivasi dalam menjalani terapi hemodialisa.
Usia juga erat kaitannya dengan prognose penyakit dan harapan hidup mereka yang
berusia diatas 55 tahun kecenderungan untuk terjadi berbagai komplikasi yang
memperberat fungsi ginjal sangat besar bila dibandingkan dengan yang berusia
dibawah 40 tahun (Indonesiannursing, 2008).
Jenis
kelamin
Sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, manusia dibedakan menurut jenis
kelaminnya yaitu pria dan wanita. Istilah gender berasal dari bahasa inggris yang berarti jenis
kelamin. Gender adalah pembagain peran kedudukan, dan tugas antara laki-laki
dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan
laki-laki yang dianggap pantas sesuai norma-norma dan adat istiadat,
kepercayaan, atau kebiasaan masyarakat.
Secara umum, setiap penyakit dapat menyerang manusia baik laki-laki maupun
perempuan, tetapi pada beberapa penyakit terdapat perbedaan frekuensi antara
laki-laki dan perempuan. Hal ini antara lain disebabkan perbedaan pekerjaan,
kebiasaan hidup, genetika atau kondisi fisiologis (Budiarto & Anggraeni,
2002).
Penelitan Yuliaw (2009) menyatakan, bahwa responden memiliki karakteristik individu yang
baik hal ini bisa dilihat dari jenis kelamin, bahwa perempuan lebih banyak
menderita penyakit gagal ginjal kronik, sedangkan laki-laki lebih rendah dan responden
laki-laki mempunyai kualitas hidup lebih jelek dibandingkan perempuan, semakin
lama menjalani terapi hemodialisa akan semakin rendah kualitas hidup penderita.
Status Perkawinan
Perkawinan
merupakan salah suatu aktivitas individu. Aktivitas individu umumnya akan
terkait pada suatu tujuan yang ingin dicapai oleh individu yang bersangkutan,
demikian pula dalam hal perkawinan. Karena perkawinan merupakan suatu aktivitas
dari satu pasangan, maka sudah selayaknya mereka pun juga mempunyai tujuan tertentu.
Tetapi karena perkawinan itu terdiri dari dua individu, maka adanya kemungkinan
bahwa tujuan mereka itu tidak sama. Bila hal tersebut terjadi, maka tujuan itu
harus dibulatkan agar terdapat suatu kesatuan dalam tujuan tersebut (Tarigan,
2011).
Pendidikan
Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Proses pendidikan
tak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri. Pembangunan diarahkan
dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas dan
pembangunan sektor ekonomi, yang satu dengan lainnya saling berkaitan dan
berlangsung dengan berbarengan (Hamalik, 2008).
Yuliaw
(2009) dalam penelitiannya mengatakan bahwa, pada penderita yang memiliki
pendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas juga
memungkinkan pasien itu dapat mengontrol dirinya dalam mengatasi masalah yang
di hadapi, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, berpengalaman, dan
mempunyai perkiraan yang tepat bagaimana mengatasi kejadian, mudah mengerti
tentang apa yang dianjurkan oleh petugas kesehatan, serta dapat mengurangi
kecemasan sehingga dapat membantu individu tersebut dalam membuat
keputusan. Hasil penelitian ini didukung
dengan teori dimana pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang penting
untuk terbentuknya tindakan, perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih
langgeng dari pada yang tidak didasari
pengetahaun (Notoatmodjo, 2005).
Pekerjaan
Pekerjaan
adalah merupakan sesuatu kegiatan atau aktifitas seseorang yang bekerja pada
orang lain atau instasi, kantor, perusahaan untuk memperoleh penghasilan yaitu
upah atau gaji baik berupa uang maupun barang demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari
(Lase, 2011).
Penghasilan
yang rendah akan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun
pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin
karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat atau membayar tranportasi
(Notoatmodjo, 2010).
Budiarto
dan Anggraeni (2002) mengatakan berbagai jenis pekerjaan akan berpengaruh pada
frekuensi dan distribusi penyakit. Hal ini disebabkan sebagaian hidupnya
dihabiskan di tempat pekerjaan dengan berbagai suasana lingkungan yang berbeda.
Agama
Agama adalah suatu simbol yang
mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan
motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya. Agama
dan kepercayaan spiritual sangat mempengaruhi pandangan klien tentang kesehatan
dan penyakitnya, rasa nyeri dan penderitaan, serta kehidupan dan kematian.
Sehat spiritual terjadi saat individu menentukan keseimbangan antara
nilai-nilai dalam kehidupannya, tujuan, dan kepercayaan dirinya dengan orang
lain. Penelitain menunjukkan hubungan antara jiwa, daya pikir, dan tubuh.
Kepercayan dan harapan individu mempunyai pengaruh terhadap kesehatan seseorang
(Potter
& Perry, 2009).
Suku/Budaya
Budiarto dan Anggraeni
(2002) mengatakan, klasifikasi penyakit berdasarkan suku sulit dilakukan baik
secara praktis maupun secara konseptual, tetapi karena terdapat perbedaan yang
besar dalam frekuensi dan beratnya penyakit
di antara suku maka dibuat kalsifikasi walaupun terjadi kontroversial.
Pada umumnya penyakit yang berhubungan dengan suku berkaitan dengan faktor
genetik atau faktor lingkungan.
Ekonomi/penghasilan
individu
yang status sosial ekonominya berkecukupan akan mampu menyediakan segala
fasilitas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya,
individu yang status sosial ekonominya rendah akan mengalami kesulitan di dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya (Sunaryo, 2004).
4. Kualitas
Hidup
Menurut WHO kualitas hidup adalah
sebagai persepsi individu sebagai laki-laki ataupun perempuan dalam hidup
ditinjau dari konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal, hubungan
dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian mereka. Hal ini
terangkum secara kompleks mencakup kesehatan fisik, status psikologis, tingkat
kebebasan, hubungan sosial, dan hubungan kepada karakteristik lingkungan mereka
(WHOQOL, 2004).
Kualitas hidup adalah kondisi
dimana pasien kendati penyakit yang dideritanya dapat tetap merasa nyaman
secara fisik, psikologis, sosia maupun spiritual serta secara optimal memanfaatkan hidupnya untuk
kebahagian dirinya maupun orang lain.
5. Dimensi
Kualitas Hidup
Menurut WHOQoL group (The World Health Organization Quality of
Life) pada tahun 2004 menyebutkan bahwa kualitas hidup terdiri dari 4
dimensi. Keempat dimensi WHOQoL group meliputi:
1.
Kesehatan
fisik
Berhubungan dengan kesakitan dan
kegelisahan, ketergantungan pada perawatan medis, energi dan kelelahan, mobilitas,
tidur dan istirahat, aktifitas kehidupan sehari-hari, dan kapasitas kerja.
2.
Kesehatan
psikologis
Berhubungan dengan pengaruh
positif dan negatif spiritual, pemikiran pembelajaran, daya ingat dan
konsentrasi, gambaran tubuh dan penampilan, serta penghargaan terhadap diri
sendiri.
3.
Hubungan sosial
Terdiri dari hubungan personal, aktivitas seksual,
dan hubungan sosial
4.
Lingkungan
Terdiri dari keamanan dan
kenyamanan fisik, lingkungan fisik, sumber penghasilan, kesempatan memperoleh
informasi, keterampilan baru, partisipasi dan kesempatan untuk rekreasi atau
aktifitas pada waktu luang.
6. Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup
Desita (2010) menyakatan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah
sosio demografi yaitu jenis kelamin, umur, suku/etnik, pendidikan, pekerjaan,
dan status perkawinan. Kedua adalah medik yaitu lama manjalani hemodialisa,
stadium penyakit, dan penatalaksanaan medis yang dijalani.
Penelitian Yuliaw (2009) menemukan bahwa karakteristik
individu yang terdiri dari pendidikan, pengetahuan, umur, dan jenis kelamin
merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik.
Sedangkan Yuwono (2000) dalam penelitiannya mengatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal adalah umur, jenis kelamin,
etiologi gagal ginjal, cara terapi pengganti, status nutrisi dan kondisi
kormorid.
Kesimpulan Dan Saran
Karakteristik berarti
hal yang berbeda seseorang,
tempat, atau hal yang menggambarkannya.
Karakteristik seseorang sangat mempengaruhi pola kehidupan seseorang,
karakteristik bisa dilihat dari beberapa sudat pandang diantaranya umur, jenis
kelamin dan tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan suku. Kualitas hidup
merupakan keadaan dimana seseorang mendapat kepuasaan dan kenikmatan dalam
kehidupan sehari-hari. dimensi kualitas hidup terbagi empat bagian yaitu
kesehatan fisik, sosial, spritual, dan
lingkungan.
Setelah
mengetahui hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien gagal
ginjal kronik.
Daftar
Pustaka
Brunner
& Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Budiarto
& Anggraeni. 2002. Pengantar
Epidemiologi, Edisi 2. Jakarta: EGC.
Hamalik, O.
2008. Kurikulum dan Pembelajaran.
Jakarta. Bumi Aksara.
Indonesiannursing.
2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakpatuhan Perawatan Hemodialisis.
Diakses dari http://indonesiannursing.com/?=192 tanggal 30 April 2012.
Lase, W. N. (2011). Analisis
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis yang
Menjalani Hemodialisa di RSUP Haji Adam Malik Medan.
Perhimpunan
Nefrologi Indonesia. 2003. Penyakit Ginjal Kronik dan Glomerulopati : Aspek
Klinik dan Patologi Ginjal Pengelolaan Hipertensi Saat ini. Jakarta.
Potter
& Perry. 2009. Fundamental
Keperawatan, Edisi 7. Jakarta: Salemba Medika.
Susalit.
2012. Teknik Baru Pengobatan Gagal
Ginjal, Edisi Minggu 22 Januari 2012. Koran Jakarta. Di Buka pada Website: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/81403.
Pada tanggal 30 April 2012.
Sunaryo.
2004. Psikologi untuk Keperawatan.
Jakarta: EGC.
The Word
Health Organization Quality Of Life (WHOQOL)-BREF. Dibuka pada tanggal 29 April
2012.
Universitas
Toronto. 2004. QOL Concept. Dibuka pada website http://www.utoronto.ca/qolconceps.
Pada tanggal 29 April 2012.
Warlianawati.
2007. Persepsi Pasien Terhadap Peran Perawat dalam Pemenuhan Kebutuhan
Spiritual pada Pasien Penyakit Gagal Ginjal Kronik di Unit Hemodialisa di RS.
PKU Muhammadiyah Yogyakarta 2007. Di Buka pada Website: http://www.publikasi.umy.ac.id/index.php/PSIK 2007.
Pada tanggal 26 April 2012.
Yuliaw, A. 2009.
Hubungan Karakteristik Individu dengan Kualitas Hidup Dimensi Fisik pasien
Gagal Ginjal Kronik di RS Dr. Kariadi Semarang. Diakses dari
digilib.unimus.ac.id/files/disk1/106/jtpunimus-gdl-annyyuliaw-5289-2-bab2.pdf
pada tanggal 29 April 2012.
Notoatmodjo,
S. 2005. Pendidikan dan Perilaku
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
__________.
2010. Ilmu Perilaku Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta.


.jpg)
