Khasiat Buah Ciplukan Alias Pultak-Pultak

Apa saja manfaat tanaman ciplukan (Pultak-Pultak “Bahasa Batak”) untuk kesehatan tubuh?
Ciplukan- Yg dalam bahasa latinya di sebut sebagai Physalis angulata merupakan jenis tanaman liar yang umum kita jumpai di daerah persawahan. Biasanya tumbuhan tersebut dapat tumbuh dengan baik dan subur setelah para petani usai menuai hasil panenya. Tanaman ciplukan terdiri dari daun, buah, batang dan akar. Bahkan di beberapa daerah khususnya perkotaan, ceplukan biasanya juga di perjual belikan, mengingat manfaatnya yang luar biasa untuk mengobati penyakit dan demi kesehatan tubuh.

Tahukah anda, dari semua struktur tanaman ciplukan tersebut dapat membantu mengobati penyakit yang bisa di kategorikan dalam penyakit berat. Namun banyak orang yang selama ini memandang sebelah mata tanpa mengetahui khasiat obat tradisional tersebut, dan hanya merasakan buahnya yang manis saja tanpa mengetahui khasiat mujarab dari batang, daun dan akarnya. Zat bermanfaat dalam tanaman ciplukan terdiri dari :
  1. vitamin C , gula, fisalin, tanin, kriptoxantin, polifenol dan steroid terletak pada buahnya
  2. Asam palmitat, stearat terletak pada biji buahnya.
  3. flavonoid dan saponin terletak pada daun dan tunas
  4. alkaloid terletak pada akarnya 
  5. chlorogenic acid terletak pada batang dan daun
http://ayuarifahharianja.blogspot.com/
Pultak-Pultak "Bahasa Batak"
Selain zat bermanfaat di atas masih ada zat lainya seperti asam malat, asam sitrun, dan H2o yang semua zat- zat tersebut dapat membantu kesehatan tubuh anda. Jika anda penasaran apa saja khasiat serta manfaat tanaman ciplukan? simak sajian berikut ini di mulai dari :

Manfaat Akar tanaman ciplukan (Pultak-Pultak)

- Mengobati penyakit diabetes melitus,
cara menyajikan sebagai obat tradisional sebagai berikut
- pilih tanaman yang sudah berbuah dan berumur, cabut tanaman tersebut dan ambil bagian akarnya kemudian bersihkan, sebelum di rebus, ada baiknya diamkan beberapa saat akar ciplukan tersebut sampai menjadi layu. Kemudian rebus akar ciplukan dengan 3 gelas air bersih, tunggu sampai rebusan tersebut benar benar mendidih dan hanya tersisa satu gelas saja. Berikutnya ambil air yang tersisa dan saring hingga bersih dari akar, minum satu kali sehari dan lakukan secara rutin.

Manfaat buah ciplukan

- Mengobati penyakit ayan/ epilepsi
Jika anda atau anggota keluarga ada yang mengidap penyakit berbahaya ini, ada baiknya mengkonsumsi sekitar 8 sampai 10 butir setiap harinya, kandungan pada buah ciplukan dapat membantu mengatasi ayan secara berkala.

- Menurunkan darah tinggi
Khasiat buah ciplukan lainya adalah sebagai obat tradisional yang dapat membantu menurunkan darah tinggi/ hipertensi. Cara penyajian: ambil buah ciplukan sebanyak 5 gram saja, rebus dengan air sebanyak 110 ml selama kurang lebih 10 samapai 15 menit sambil terus di aduk. setelah sampai waktu yang di tentukan, saring air rebusan dan dinginkan sejenak kemudian minum 2 kali sehari. Hal yang perlu di ingat adalah janganlah terlalu lama menyimpan karena akn mengurangi bahkan menghilangkan senyawa yang ada.

-Mengobati sakit paru- paru
Khasiat lainya adalah membantu mengobati penyakit paru- paru, namun kali ini bukan hanya buahnya saja, melainkan semua struktur pada tanaman mulai dari akar, daun, bunga, batang dan buah rebus sampai mendidih dengan air sebanyak 3 sampai 5 gelas saja, dan seperti sebelumnya saring kemudian minum secara rutin 3 X sehari.

Manfaat daun ciplukan

- Mampu melawan kanker
wow, hal yang sangat luar biasa, menurut beberapa penelitian kesehatan, steroid pada daun dan buah ciplukan bisa membantu melawan dan membunuh sel- sel ganas yang tumbuh dalam tubuh. Dan study tersebut juga menyatakan bahwa ekstrak tanaman ciplukan dapat mengecilkan ukuran tumor kanker.

Itulah tadi Khasiat Buah Ciplukan Untuk Obat Tradisional Herbal Mujarab yang perlu anda ketahui, secara garis besar tanaman ciplukan berfungsi sebagai antibakteri, antivirus, antihiperglikemi, imunostimulan, imunosupresan , antiinflamasi, analgesik, sitotoksik, antiinflamasi, antioksidan, analgesik, dan sitotoksik, meredakan batuk, menetralkan racun serta mengaktifkan kembali fungsi kelenjar tubuh dan anti tumor. hal yang sangat luar biasa, menurut beberapa penelitian kesehatan, steroid pada daun dan buah ciplukan bisa membantu melawan dan membunuh sel- sel ganas yang tumbuh dalam tubuh. Dan study tersebut juga menyatakan bahwa ekstrak tanaman ciplukan dapat mengecilkan ukuran tumor kanker.

Itulah tadi Khasiat Buah Ciplukan Untuk Obat Tradisional Herbal Mujarab yang perlu anda ketahui, secara garis besar tanaman ciplukan berfungsi sebagai antibakteri, antivirus, antihiperglikemi, imunostimulan, imunosupresan , antiinflamasi, analgesik, sitotoksik, antiinflamasi, antioksidan, analgesik, dan sitotoksik, meredakan batuk, menetralkan racun serta mengaktifkan kembali fungsi kelenjar tubuh dan anti tumor.

Pengaruh Umur Terhadap Gagal Ginjal Kronik

Gagal ginjal kronik sudah merupakan masalah kesehatan masyarakat diseluruh dunia (Perhimpunan Nefrologi Indonesia, 2004). Laporan The United States Renal Date System (USRDS) pada tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan populasi penderita gagal ginjal kronik di Amerika Serikat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dimana prevalensi penderita gagal ginjal kronik mencapai 1.569 orang per sejuta penduduk (Warlianawati, 2007). Sedangkan jumlah penderita gagal ginjal di Indonesia  saat ini terbilang tinggi, mencapai 300.000 orang
http://ayuarifahharianja.blogspot.com/
tetapi belum semua pasien dapat tertangani oleh para tenaga medis, baru sekitar 25.000 orang pasien yang dapat ditangani, artinya ada 80 persen pasien tak tersentuh pengobatan sama sekali (Susalit, 2012). Pengobatan bagi penderita gagal ginjal kronik tahap akhir, dilakukan dengan pemberian terapi dialisis seperti hemodialisa atau transplantasi ginjal yang bertujuan untuk mempertahankan kualitas hidup pasien ((Brunner & Suddarth, 2002).
Kualitas hidup adalah sejauh mana seseorang menikmati kemungkianan penting dalam hidupnya (University of Toronto, 2004). Kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa masih merupakan masalah yang menarik perhatian para profesional kesehatan. Pasien bisa bertahan hidup dengan menjalani terapi hemodialisa, namun masih menyisakan sejumlah persoalan penting sebagai dampak dari terapi hemodialisa. Mencapai kualitas hidup perlu perubahan secara fundamental atas cara pandang pasien terhadap penyakit gagal ginjal kronis itu sendiri (Togatorop, 2011).
Berdasarkan hasil penelitian Yuliaw (2009),  bahwa responden memiliki karakteristik individu yang baik hal ini bisa dilihat dari usia responden dimana yang menderita penyakit gagal ginjal paling banyak dari kalangan orang tua yaitu sebanyak 26,9 %, dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 67,3 % dan tingkat pendidikan SMA sebanyak 44,2 % dam kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik masuk dalam katagori tinggi yaitu 67,3 %. Hasil penelitian Yuliaw (2009) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara karakteristik individu dengan kualitas hidup dimensi fisik pasien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang. Hal ini menunjukkan semakin tinggi karakteristik seseorang maka akan semakin baik pula kualitas hidupnya.
Karakteristik seseorang sangat mempengaruhi pola kehidupan seseorang, karakteristik bisa dilihat dari beberapa sudat pandang diantaranya umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan seseorang, disamping itu keseriusan seseorang dalam menjaga kesehatannya sangat mempengaruhi kualitas kehidupannya baik dalam beraktivitas, istirahat, ataupun secara psikologis. Dan banyak orang yang beranggapan bahwa orang terkena penyakit gagal ginjal akan mengalami penurunan dalam kehidupannya. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik seseorang sangat mempengaruhi kualitas hidup seseorang terutama yang mengidap penyakit gagal ginjal kronik (Yuliaw, 2009).

1.    Konsep Karakteristik
Karakter (watak) adalah keseluruhan atau totalitas kemungkinan-kemungkinan bereaksi secara emosional seseorang yang terbentuk selama hidupnya oleh unsur-unsur dari dalam (dasar, keturunan, dan faktor-faktor endogen) dan unsur-unsur dari luar (pendidikan dan pengalaman, serta faktor-faktor eksogen) (Sunaryo, 2004).
Karakteristik berarti hal yang berbeda tentang seseorang, tempat, atau hal yang menggambarkannya. Sesuatu yang membuatnya unik atau berbeda. Karakteristik dalam individu adalah sarana untuk memberitahu satu terpisah dari yang lain, dengan cara bahwa orang tersebut akan dijelaskan dan diakui. Sebuah fitur karakteristik dari orang yang biasanya satu yang berdiri di antara sifat-sifat yang lain (Sunaryo, 2004).
Notoatmodjo (2010) menyebutkan ciri-ciri individu digolongkan kedalam tiga kelompok yaitu:
1.    Ciri-ciri demografi, seperti jenis kelamin dan umur
2.    Struktur sosial, seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, kesukuan atau ras, dan sebagainya.
3.    Manfaat-manfaat kesehatan, seperti keyakinan bahwa pelayanan kesehatan dapat menolong proses penyembuhan penyakit.

3.    Karakteristik Pasien
Karakteristik pasien meliputi usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, agama, suku/budaya, dan ekonomi/penghasilan.
Usia
Usia (umur) adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan). Usia meningkatkan atau menurunkan kerentanan terhadap penyakit tertentu. Pada umumnya kualitas hidup menurun dengan meningkatnya umur. Penderita gagal ginjal kronik usia muda akan mempunyai kualitas hidup yang lebih baik oleh karena biasnya kondisi fisiknya yang lebih baik dibandingkan yang berusia tua. Penderita yang dalam usia produktif merasa terpacu untuk sembuh mengingat dia masih muda mempunyai harapan hidup yang lebih tinggi, sebagai tulang punggung keluarga, sementara yang tua menyerahkan keputusan pada keluarga atau anak-anaknya. Tidak sedikit dari mereka merasa sudah tua, capek hanya menunggu waktu, akibatnya mereka kurang motivasi dalam menjalani terapi hemodialisa. Usia juga erat kaitannya dengan prognose penyakit dan harapan hidup mereka yang berusia diatas 55 tahun kecenderungan untuk terjadi berbagai komplikasi yang memperberat fungsi ginjal sangat besar bila dibandingkan dengan yang berusia dibawah 40 tahun (Indonesiannursing, 2008).
Jenis kelamin
Sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, manusia dibedakan menurut jenis kelaminnya yaitu pria dan wanita. Istilah gender berasal dari bahasa inggris yang berarti jenis kelamin. Gender adalah pembagain peran kedudukan, dan tugas antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas sesuai norma-norma dan adat istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan masyarakat.
Secara umum, setiap penyakit dapat menyerang manusia baik laki-laki maupun perempuan, tetapi pada beberapa penyakit terdapat perbedaan frekuensi antara laki-laki dan perempuan. Hal ini antara lain disebabkan perbedaan pekerjaan, kebiasaan hidup, genetika atau kondisi fisiologis (Budiarto & Anggraeni, 2002).
Penelitan Yuliaw (2009) menyatakan, bahwa responden memiliki karakteristik individu yang baik hal ini bisa dilihat dari jenis kelamin, bahwa perempuan lebih banyak menderita penyakit gagal ginjal kronik, sedangkan laki-laki lebih rendah dan responden laki-laki mempunyai kualitas hidup lebih jelek dibandingkan perempuan, semakin lama menjalani terapi hemodialisa akan semakin rendah kualitas hidup penderita.
Status Perkawinan
Perkawinan merupakan salah suatu aktivitas individu. Aktivitas individu umumnya akan terkait pada suatu tujuan yang ingin dicapai oleh individu yang bersangkutan, demikian pula dalam hal perkawinan. Karena perkawinan merupakan suatu aktivitas dari satu pasangan, maka sudah selayaknya mereka pun juga mempunyai tujuan tertentu. Tetapi karena perkawinan itu terdiri dari dua individu, maka adanya kemungkinan bahwa tujuan mereka itu tidak sama. Bila hal tersebut terjadi, maka tujuan itu harus dibulatkan agar terdapat suatu kesatuan dalam tujuan tersebut (Tarigan, 2011).
Pendidikan
Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Proses pendidikan tak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri. Pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas dan pembangunan sektor ekonomi, yang satu dengan lainnya saling berkaitan dan berlangsung dengan berbarengan (Hamalik, 2008).
Yuliaw (2009) dalam penelitiannya mengatakan bahwa, pada penderita yang memiliki pendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas juga memungkinkan pasien itu dapat mengontrol dirinya dalam mengatasi masalah yang di hadapi, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, berpengalaman, dan mempunyai perkiraan yang tepat bagaimana mengatasi kejadian, mudah mengerti tentang apa yang dianjurkan oleh petugas kesehatan, serta dapat mengurangi kecemasan sehingga dapat membantu individu tersebut dalam membuat keputusan.  Hasil penelitian ini didukung dengan teori dimana pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang penting untuk terbentuknya tindakan, perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada  yang tidak didasari pengetahaun (Notoatmodjo, 2005).
Pekerjaan
Pekerjaan adalah merupakan sesuatu kegiatan atau aktifitas seseorang yang bekerja pada orang lain atau instasi, kantor, perusahaan untuk memperoleh penghasilan yaitu upah atau gaji baik berupa uang maupun barang demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari (Lase, 2011).
Penghasilan yang rendah akan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat atau membayar tranportasi (Notoatmodjo, 2010).
Budiarto dan Anggraeni (2002) mengatakan berbagai jenis pekerjaan akan berpengaruh pada frekuensi dan distribusi penyakit. Hal ini disebabkan sebagaian hidupnya dihabiskan di tempat pekerjaan dengan berbagai suasana lingkungan yang berbeda.

Agama
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya. Agama dan kepercayaan spiritual sangat mempengaruhi pandangan klien tentang kesehatan dan penyakitnya, rasa nyeri dan penderitaan, serta kehidupan dan kematian. Sehat spiritual terjadi saat individu menentukan keseimbangan antara nilai-nilai dalam kehidupannya, tujuan, dan kepercayaan dirinya dengan orang lain. Penelitain menunjukkan hubungan antara jiwa, daya pikir, dan tubuh. Kepercayan dan harapan individu mempunyai pengaruh terhadap kesehatan seseorang (Potter & Perry, 2009).
Suku/Budaya
Budiarto dan Anggraeni (2002) mengatakan, klasifikasi penyakit berdasarkan suku sulit dilakukan baik secara praktis maupun secara konseptual, tetapi karena terdapat perbedaan yang besar dalam frekuensi dan beratnya penyakit  di antara suku maka dibuat kalsifikasi walaupun terjadi kontroversial. Pada umumnya penyakit yang berhubungan dengan suku berkaitan dengan faktor genetik atau faktor lingkungan.
Ekonomi/penghasilan
individu yang status sosial ekonominya berkecukupan akan mampu menyediakan segala fasilitas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, individu yang status sosial ekonominya rendah akan mengalami kesulitan di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Sunaryo, 2004).

4.    Kualitas Hidup
Menurut WHO kualitas hidup adalah sebagai persepsi individu sebagai laki-laki ataupun perempuan dalam hidup ditinjau dari konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal, hubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian mereka. Hal ini terangkum secara kompleks mencakup kesehatan fisik, status psikologis, tingkat kebebasan, hubungan sosial, dan hubungan kepada karakteristik lingkungan mereka (WHOQOL, 2004).
Kualitas hidup adalah kondisi dimana pasien kendati penyakit yang dideritanya dapat tetap merasa nyaman secara fisik, psikologis, sosia maupun spiritual serta  secara optimal memanfaatkan hidupnya untuk kebahagian dirinya maupun orang lain.

5.    Dimensi Kualitas Hidup
Menurut WHOQoL group (The World Health Organization Quality of Life) pada tahun 2004 menyebutkan bahwa kualitas hidup terdiri dari 4 dimensi. Keempat dimensi WHOQoL group meliputi:

1.        Kesehatan fisik
Berhubungan dengan kesakitan dan kegelisahan, ketergantungan pada perawatan medis, energi dan kelelahan, mobilitas, tidur dan istirahat, aktifitas kehidupan sehari-hari, dan kapasitas kerja.
2.        Kesehatan psikologis
Berhubungan dengan pengaruh positif dan negatif spiritual, pemikiran pembelajaran, daya ingat dan konsentrasi, gambaran tubuh dan penampilan, serta penghargaan terhadap diri sendiri.


3.        Hubungan  sosial
Terdiri dari hubungan personal, aktivitas seksual, dan hubungan sosial
4.        Lingkungan
Terdiri dari keamanan dan kenyamanan fisik, lingkungan fisik, sumber penghasilan, kesempatan memperoleh informasi, keterampilan baru, partisipasi dan kesempatan untuk rekreasi atau aktifitas pada waktu luang.

6.    Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup
Desita (2010) menyakatan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah sosio demografi yaitu jenis kelamin, umur, suku/etnik, pendidikan, pekerjaan, dan status perkawinan. Kedua adalah medik yaitu lama manjalani hemodialisa, stadium penyakit, dan penatalaksanaan medis yang dijalani.
Penelitian Yuliaw (2009) menemukan bahwa karakteristik individu yang terdiri dari pendidikan, pengetahuan, umur, dan jenis kelamin merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik. Sedangkan Yuwono (2000) dalam penelitiannya mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien gagal ginjal adalah umur, jenis kelamin, etiologi gagal ginjal, cara terapi pengganti, status nutrisi dan kondisi kormorid.

Kesimpulan Dan Saran
Karakteristik berarti hal yang berbeda seseorang, tempat, atau hal yang menggambarkannya. Karakteristik seseorang sangat mempengaruhi pola kehidupan seseorang, karakteristik bisa dilihat dari beberapa sudat pandang diantaranya umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan suku. Kualitas hidup merupakan keadaan dimana seseorang mendapat kepuasaan dan kenikmatan dalam kehidupan sehari-hari. dimensi kualitas hidup terbagi empat bagian yaitu kesehatan fisik, sosial, spritual, dan  lingkungan.
Setelah mengetahui hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik.


Daftar Pustaka
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Budiarto & Anggraeni. 2002. Pengantar Epidemiologi, Edisi 2. Jakarta: EGC.
Hamalik, O. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta. Bumi Aksara.
Indonesiannursing. 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakpatuhan Perawatan Hemodialisis. Diakses dari http://indonesiannursing.com/?=192 tanggal 30 April 2012.
Lase, W. N. (2011). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa di RSUP Haji Adam Malik Medan.
Perhimpunan Nefrologi Indonesia. 2003. Penyakit Ginjal Kronik dan Glomerulopati : Aspek Klinik dan Patologi Ginjal Pengelolaan Hipertensi Saat ini. Jakarta.
Potter & Perry. 2009. Fundamental Keperawatan, Edisi 7. Jakarta: Salemba Medika.
Susalit. 2012. Teknik Baru Pengobatan Gagal Ginjal, Edisi Minggu 22 Januari 2012. Koran Jakarta. Di Buka pada Website: http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/81403. Pada tanggal 30 April 2012.
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
The Word Health Organization Quality Of Life (WHOQOL)-BREF. Dibuka pada tanggal 29 April 2012.
Togatorop, L. 2011. Hubungan Perawat Pelaksana dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Terapi Hemodialisa di RSUP Haji Adam Malik Medan.
Universitas Toronto. 2004. QOL Concept. Dibuka pada website http://www.utoronto.ca/qolconceps. Pada tanggal 29 April 2012.
Warlianawati. 2007. Persepsi Pasien Terhadap Peran Perawat dalam Pemenuhan Kebutuhan Spiritual pada Pasien Penyakit Gagal Ginjal Kronik di Unit Hemodialisa di RS. PKU Muhammadiyah Yogyakarta 2007. Di Buka pada Website: http://www.publikasi.umy.ac.id/index.php/PSIK 2007. Pada tanggal 26 April 2012.
Yuliaw, A. 2009. Hubungan Karakteristik Individu dengan Kualitas Hidup Dimensi Fisik pasien Gagal Ginjal Kronik di RS Dr. Kariadi Semarang. Diakses dari digilib.unimus.ac.id/files/disk1/106/jtpunimus-gdl-annyyuliaw-5289-2-bab2.pdf pada tanggal 29 April 2012.
Notoatmodjo, S. 2005. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

__________. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Abu Fulkanik di Medan Akibat Gunung Sinabung

Bahaya Abu Fulkanik Bagi Kesehatan Manusia 


Material vulkanik, walaupun berukuran kecil (misalnya debu dan abu vulkanik), bisa menimbulkan potensi bahaya bagi kesehatan. Di Indonesia khususnya, di mana terdapat 127 gunung api aktif, pengetahuan dan informasi akan bahaya material vulkanik menjadi semakin penting. Abu atau debu vulkanik sangat berbahaya bagi kesehatan pernapasan jika terhirup. Selain itu material hasil erupsi gunung api tersebut juga bisa menimbulkan masalah bagi mata dan kulit manusia.

Seperti yang dikutip dari Kompas, ahli kesehatan paru dari Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, dr Agus Santoso, SpP, mengatakan ada beberapa faktor yang memengaruhi seberapa besar dampak debu vulkanik terhadap kesehatan. Faktor ini di antaranya konsentrasi partikel, proporsi debu yang terhirup, serta kondisi meteorologi.

Debu vulkanik yang halus dan berukuran sangat kecil, yaitu kurang dari 10 mikron, berpotensi mengganggu pernapasan. Bahkan, debu berukuran kurang dari 5 mikron dapat menembus saluran pernapasan bagian bawah atau organ paru-paru.

Dampak kesehatan yang terjadi akibat debu vulkanik bisa bersifat akut maupun kronis. Efek akut bisa terjadi setelah terpapar oleh debu vulkanik dalam waktu singkat, sedangkan efek kronik bisa timbul setelah terpapar material vulkanik dalam jangka waktu panjang, atau bertahun-tahun.

Seperti yang terjadi beberapa hari belakangan ini Abu fulkanik akibat semburan Gunung Sinabung yang terletak di Berastagi Kab. Karo. Pada tanggal 09 Oktober 2014 abu Fulkanik Gunung Sinabung sampai ke Kota Medan dan sekitarnya, sehingga mengganggu baik itu penerbangan Pesawar banyak yang di tunda dari KNI Kuala Namu Medan. 

Efek Abu Letusan Gunung Api (Vulkanik) bagi Kesehatan

http://ayuarifahharianja.blogspot.com/
Gunung Sinabung
Mengeluarkan Asap
Berikut ini adalah beberapa bahaya abu vulkanik bagi kesehatan yang perlu anda waspadai:
1. Kesehatan Pernapasan
Menghirup debu vulkanik sangat berbahaya bagi kesehatan pernapasan. Material debu yang masuk ke melalui saluran pernapasan bisa menimbulkan iritasi saluran pernapasan hingga infeksi, yang dikenal dengan istilah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut). Paparan debu vulkanik pada saluran pernapasan juga bisa menyebabkan efek akut pada penderita penyakit pernapasan seperti asma, bronkhitis dan enfisema (penyakit paru obstruktif kronik / PPOK).

Beberapa gejala yang dapat timbul pada pernapasan setelah menghirup debu vulkanik antara lain:
  1. iritasi saluran pernapasan
  2. sekresi dahak meningkat
  3. iritasi dan radang pada tenggorokan
  4. batuk kering
    http://ayuarifahharianja.blogspot.com/
    Medan-Pembangian Masker
    Bagi Pengguna Jalan
  5. dada sakit dan kesulitan bernapas, serta gejala asma
Jika anda atau orang di dekat anda mengalami gejala tersebut, segera amankan ke tempat yang terbebas dari paparan debu vulkanik untuk mencegah efek yang lebih buruk pada pernapasan.

Mata
Tekstur debu atau abu vulkanik berbeda dengan debu biasa. Debu vulkanik memiliki sudut kristal yang meruncing atau tajam, sehingga dapat menggores dan menyebabkan iritasi. Selain berbahaya jika terhirup, debu tersebut juga dapat menyebabkan gangguan pada mata. Selain menyebabkan iritasi, debu vulkanik juga dapat merusak lapisan kornea pada mata.

Beberapa gejala yang bisa timbul pada mata antara lain:
  1. iritasi mata (mata memerah)
  2. mata terasa gatal dan/atau perih
  3. air mata keluar terus menerus
  4. abrasi pada kornea mata karena goresan oleh debu vulkanik, sehingga mata menjadi perih
Gunakan kaca mata untuk melindungi mata anda ketika harus berada pada daerah yang terpapar debu vulkanik. Jika debu masuk ke mata, jangan mengucek atau menggosok mata karena justru dapat menyebabkan goresan pada lapisan kornea mata.

Kulit
Material vulkanik, yang mengandung zat-zat berbahaya seperti gas CO, H2S, SO2, juga bisa menyebabkan gangguan pada kulit. Walaupun kasusnya cukup jarang dan lebih sering terjadi pada orang dengan tipe kulit sensitif. Efek buruk yang terjadi pun umumnya bersifat ringan, berupa iritasi dan kemerahan pada kulit yang terpapar, namun cukup membuat penderitanya tidak nyaman.

Mencegah Bahaya Kesehatan oleh Abu Vulkanik

Untuk mencegah terjadinya dampak buruk bagi kesehatan yang disebabkan oleh material vulkanik, khususnya debu dan abu vulkanik, gunakanlah masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung. Ini dilakukan sebagai langkah meminimalisir paparan debu dan abu vulkanik pada saluran pernapasan.

Terlebih bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan pernapasan seperti asma atau sakit paru, penggunaan masker sangat diutamakan, dan segeralah mengamankan diri ke tempat yang cukup terhindar dari paparan material vulkanik. Anak-anak dan lansia juga harus diutamakan untuk menggunakan masker pengaman.

Selain itu, gunakan kaca mata untuk melindungi mata agar tidak terjadi iritasi dan gangguan penglihatan. Menggunakan pakaian yang tertutup (celana panjang dan baju yang menutup seluruh lengan) juga disarankan untuk mencegah gangguan kulit yang bisa disebabkan oleh debu dan abu vulkanik.

How to cope with nausea during early pregnancy

First child was indeed very deg - deg right for women , because it is a new beginning of first childbirth , and during pregnancy , especially pregnant roughly 3-5 months to feel sick , but do not worry here are ways to overcome the nausea , let us see the discussion below .

Tips to Overcome Nausea Vomiting During Pregnancy Young ( Morning Sickness ) What is morning sickness ? Morning sickness or nausea and vomiting usually occur during the initial 3 months of pregnancy ( first trimester ) . Every pregnant woman will have different degrees of nausea different , there is not much to feel anything , but there is also a feeling of nausea and even feel very nauseous and vomiting all the time and require treatment ( hyperemesis gravidarum ) . Remember every pregnant woman with the special characteristics of each , as well as you !

Several Ways to treat nausea during early pregnancy to help you cope with " morning sickness " or nausea - vomiting during early pregnancy :
  1. Eat small amounts frequently , do not eat in large quantities or portions would only make you grow sick . Try to eat when you can eat , with small but frequent portions .
    http://ayuarifahharianja.blogspot.com/
  2. Eating foods high in carbohydrates and proteins that can help overcome your nausea . Many fruit and vegetables and foods high in carbohydrates such as bread , potatoes , biscuits , etc.
  3. In the morning when you wake up do not jump to hasty wake up , try to sit first and only slowly stood up . If you feel very sick when I wake up in the morning prepare snack or biscuit near your bed , and you can eat it first before you try to stand up .
  4. Avoid fatty foods , oily and spicy that will aggravate your nausea .
  5. Drink enough to avoid dehydration from vomiting . Drink water , or juice . Avoid drinks that contain caffeine and carbonates .
  6. Vitamin pregnancy sometimes worsen nausea , but you still need folate for pregnancy this . If nausea and vomiting is very severe , consult your doctor so that it can be given the best advice for vitamins that you will consume . And your doctor will probably give you medicine for nausea when necessary .
  7. Vitamin B 6 is effective for reducing nausea in pregnant women . Should first consult with your doctor to use .
Traditional Medicine : Usually people use ginger in reducing nausea in a variety of traditional medicine . Research in Australia states that ginger can be used as a traditional medicine to overcome the nausea and safe for mother and baby . In some pregnant women who consume fresh ginger or ginger candy to overcome sickness .

Rest and relax will help you cope with nausea vomiting . Because if you stress will only aggravate your nausea . . Uptake time for you ! try to get enough rest and relax , listen to music , read a baby book or your favorite magazine etc. . Face your pregnancy with happiness , because it is grace .

Believe Morning sickness or nausea vomiting in early pregnancy it will pass without you realizing, and this will be one exciting experience during your pregnancy - just think about the little one will be coming soon with a million happiness .

Warning for women amyl order : Contact your doctor if nausea - vomiting became so great , so you can not eat or drink anything that can cause lack of fluids / dehydration . may be

Dampak Obesitas Pada Anak

Berikut ini adalah Dampak Obesitas Pada Anak : 

1. Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskuler 

Faktor Risiko ini meliputi peningkatan: kadar insulin, trigliserida, LDL-kolesterol dan tekanan darah sistolik serta penurunan kadar HDL- kolesterol. Risiko penyakit Kardiovaskuler di usia dewasa pada anak obesitas sebesar 1,7 - 2,6. IMT mempunyai hubungan yang kuat (r = 0,5) dengan kadar insulin. Anak dengan IMT > persentile ke 99, 40% diantaranya mempunyai kadar insulin tinggi, 15% mempunyai kadar HDL-kolesterol yang rendah dan 33% dengan kadar trigliserida tinggi.15 Anak obesitas cenderung mengalami peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, sekitar 20-30% menderita hipertensi.5 

2. Diabetes Mellitus tipe-2 

Diabetes mellitus tipe-2 jarang ditemukan pada anak obesitas.5,15 Prevalensi penurunan glukosa toleran test pada anak obesitas adalah 25% sedang diabetes mellitus tipe-2 hanya 4%. Hampir semua anak obesitas dengan diabetes mellitus tipe-2 mempunyai IMT > + 3SD atau > persentile ke 99. 16 

3. Obstruktive sleep apnea 
http://ayuarifahharianja.blogspot.com/
Sering dijumpai pada anak obesitas dengan kejadian 1/100 dengan gejala mengorok.5 Penyebabnya adalah penebalan jaringan lemak didaerah dinding dada dan perut yang mengganggu pergerakan dinding dada dan diafragma, sehingga terjadi penurunan volume dan perubahan pola ventilasi paru serta meningkatkan beban kerja otot pernafasan. Pada saat tidur terjadi penurunan tonus otot dinding dada yang disertai penurunan saturasi oksigen dan peningkatan kadar CO2, serta penurunan tonus otot yang mengatur pergerakan lidah yang menyebabkan lidah jatuh kearah dinding belakang faring yang mengakibatkan obstruksi saluran nafas intermiten dan menyebabkan tidur gelisah, sehingga keesokan harinya anak cenderung mengantuk dan hipoventilasi. Gejala ini berkurang seiring dengan penurunan berat badan.5,10 

4. Gangguan ortopedik 

Pada anak obesitas cenderung berisiko mengalami gangguan ortopedik yang disebabkan kelebihan berat badan, yaitu tergelincirnya epifisis kaput femoris yang menimbulkan gejala nyeri panggul atau lutut dan terbatasnya gerakan panggul.5 

5. Pseudotumor serebri 

Pseudotumor serebri akibat peningkatan ringan tekanan intrakranial pada obesitas disebabkan oleh gangguan jantung dan paru-2 yang menyebabkan peningkatan kadar CO2 dan memberikan gejala sakit kepala, papil edema, diplopia, kehilangan lapangan pandang perifer dan iritabilitas.5

Mekanisme Keseimbangan Energi dan Berat Badan

Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu: pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energi dan regulasi sekresi hormon yang terlibat dalam pengaturan penyimpanan energi, melalui sinyal-sinyal efferent yang berpusat di hipotalamus setelah mendapatkan sinyal afferent dari perifer terutama dari jaringan adipose tetapi juga dari usus dan jaringan otot. Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan asupan makanan, menurunkan pengeluaran energi) dan katabolik (anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang. 

Sinyal pendek (situasional) yang mempengaruhi porsi makan dan waktu makan serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yaitu kolesistokinin (CCK) yang mempunyai peranan paling penting dalam menurunkan porsi makan dibanding glukagon, bombesin dan somatostatin. Sinyal panjang yang diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan keseimbangan energi. Didalam system ini leptin memegang peran utama sebagai pengendali berat badan. Sumber utama leptin adalah jaringan adiposa, yang disekresi langsung masuk ke peredaran darah dan kemudian menembus sawar darah otak menuju ke hipotalamus. Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan maka massa jaringan adiposa meningkat, disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam peredaran darah. Leptin kemudian merangsang anorexigenic center di hipotalamus agar menurunkan produksi NPY, sehingga terjadi penurunan nafsu makan dan asupan makanan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari asupan energi, maka massa jaringan adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu makan dan asupan makanan. Pada sebagian besar orang obesitas, mekanisme ini tidak berjalan walaupun kadar leptin didalam darah tinggi dan disebut sebagai resistensi leptin. 
http://ayuarifahharianja.blogspot.com/

Beberapa neurotransmiter, yaitu norepineprin, dopamin, asetilkolin dan serotonin berperan juga dalam regulasi keseimbangan energi, demikian juga dengan beberapa neuropeptide dan hormon perifer yang juga mempengaruhi asupan makanan dan berperan didalam pengendalian kebiasaan makan. Neuropeptide-neuropeptide ini meliputi neuropeptide Y (NPY), melanin-concentrating hormone, corticotropin-releasing hormone (CRH), bombesin dan somatostatin. NPY dan CRH terdapat di nukleus paraventrikuler (PVN) yang terletak di bagian dorsal dan rostral ventromedial hypothalamic (VMH), sehingga lesi pada daerah ini akan mempengaruhi kebiasaan makan dan keseimbangan energi. NPY merupakan neuropeptida perangsang nafsu makan dan diduga berperan didalam respon fisiologi terhadap starvasi dan obesitas. 


Nukleus VMH merupakan satiety center / anorexigenic center . Stimulasi pada nukleus VMH akan menghambat asupan makanan dan kerusakan nukleus ini akan menyebabkan makan yang berlebihan (hiperfagia) dan obesitas. Sedang nukleus area lateral hipotalamus (LHA) merupakan feeding center / orexigenic center dan memberikan pengaruh yang berlawanan. 

Leptin dan insulin yang bekerja pada nukleus arcuatus (ARC), merangsang neuron proopimelanocortin / cocain and amphetamine-regulated transcript (POMC/ CART) dan menimbulkan efek katabolik (menghambat nafsu makan, meningkatkan pengeluaran energi) dan pada saat yang sama menghambat neuron NPY/AGRP (agouti related peptide) dan menimbulkan efek anabolik (merangsang nafsu makan, menurunkan pengeluaran energi). Pelepasan neuropeptida-neuropeptida NPY/AGRP dan POMC/CART oleh neuron-neuron tersebut kedalam nukleus PVN dan LHA, yang selanjutnya akan memediasi efek insulin dan leptin dengan cara mengatur respon neuron-neuron dalam nukleus traktus solitarius (NTS) di otak belakang terhadap sinyal rasa kenyang (oleh kolesistokinin dan distensi lambung) yang timbul setelah makan. Sinyal rasa kenyang ini menuju NTS terutama melalui nervus vagus. Jalur descending anabolik dan katabolik diduga mempengaruhi respon neuron di NTS yang mengatur penghentian makan. Jalur katabolik meningkatkan dan jalur anabolik menurunkan efek sinyal kenyang jalur pendek, sehingga menyebabkan penyesuaian porsi makan yang mempunyai efek jangka panjang pada perubahan asupan makan dan berat badan.

Faktor-faktor Penyebab Obesitas

Berdasarkan hukum termodinamik, obesitas disebabkan adanya keseimbangan energi positif, sebagai akibat ketidak seimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi, sehingga terjadi kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak.3,4 Sebagian besar gangguan keseimbangan energi ini disebabkan oleh faktor eksogen/nutrisional (obesitas primer) sedang faktor endogen (obesitas sekunder) akibat kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik hanya sekitar 10%.

Penyebab obesitas belum diketahui secara pasti. Obesitas adalah suatu penyakit multifaktorial yang diduga bahwa sebagian besar obesitas disebabkan oleh karena interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan, antara lain aktifitas, gaya hidup, sosial ekonomi dan nutrisional yaitu perilaku makan dan pemberian makanan padat terlalu dini pada bayi. Berikut ini ada dua faktor penyebab Obesitas yaitu : 

1. Faktor Genetik


Parental fatness merupakan faktor genetik yang berperanan besar. Bila kedua orang tua obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas; bila salah satu orang tua obesitas, kejadian obesitas menjadi 40% dan bila kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi menjadi 14%.5 Hipotesis Barker menyatakan bahwa perubahan lingkungan nutrisi intrauterin menyebabkan gangguan perkembangan organ-organ tubuh terutama kerentanan terhadap pemrograman janin yang dikemudian hari bersama-sama dengan pengaruh diet dan stress lingkungan merupakan predisposisi timbulnya berbagai penyakit dikemudian hari. Mekanisme kerentanan genetik terhadap obesitas melalui efek pada resting metabolic rate, thermogenesis non exercise, kecepatan oksidasi lipid dan kontrol nafsu makan yang jelek.10,11 Dengan demikian kerentanan terhadap obesitas ditentukan secara genetik sedang lingkungan menentukan ekspresi fenotipe.11 


2.  Faktor Lingkungan 


1. Aktifitas fisik. 

http://ayuarifahharianja.blogspot.com/Aktifitas fisik merupakan komponen utama dari energy expenditure, yaitu sekitar 20-50% dari total energy expenditure. Penelitian di negara maju mendapatkan hubungan antara aktifitas fisik yang rendah dengan kejadian obesitas. Individu dengan aktivitas fisik yang rendah mempunyai risiko peningkatan berat badan sebesar ≥ 5 kg.10 Penelitian di Jepang menunjukkan risiko obesitas yang rendah (OR:0,48) pada kelompok yang mempunyai kebiasaan olah raga, sedang penelitian di Amerika menunjukkan penurunan berat badan dengan jogging (OR: 0,57), aerobik (OR: 0,59), tetapi untuk olah raga tim dan tenis tidak menunjukkan penurunan berat badan yang signifikan.8 

Penelitian terhadap anak Amerika dengan tingkat sosial ekonomi yang sama menunjukkan bahwa mereka yang nonton TV ≥ 5 jam perhari mempunyai risiko obesitas sebesar 5,3 kali lebih besar dibanding mereka yang nonton TV ≤ 2 jam setiap harinya.10 

2. Faktor nutrisional. 

Peranan faktor nutrisi dimulai sejak dalam kandungan dimana jumlah lemak tubuh dan pertumbuhan bayi dipengaruhi berat badan ibu. Kenaikan berat badan dan lemak anak dipengaruhi oleh : waktu pertama kali mendapat makanan padat, asupan tinggi kalori dari karbohidrat dan lemak5 serta kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung energi tinggi.3,5 

Penelitian di Amerika dan Finlandia menunjukkan bahwa kelompok dengan asupan tinggi lemak mempunyai risiko peningkatan berat badan lebih besar dibanding kelompok dengan asupan rendah lemak dengan OR 1.7. Penelitian lain menunjukkan peningkatan konsumsi daging akan meningkatkan risiko obesitas sebesar 1,46 kali.8 Keadaan ini disebabkan karena makanan berlemak mempunyai energy density lebih besar dan lebih tidak mengenyangkan serta mempunyai efek termogenesis yang lebih kecil dibandingkan makanan yang banyak mengandung protein dan karbohidrat. Makanan berlemak juga mempunyai rasa yang lezat sehingga akan meningkatkan selera makan yang akhirnya terjadi konsumsi yang berlebihan.10 Selain itu kapasitas penyimpanan makronutrien juga menentukan keseimbangan energi. Protein mempunyai kapasitas penyimpanan sebagai protein tubuh dalam jumlah terbatas dan metabolisme asam amino di regulasi dengan ketat, sehingga bila intake protein berlebihan dapat dipastikan akan di oksidasi; sedang karbohidrat mempunyai kapasitas penyimpanan dalam bentuk glikogen hanya dalam jumlah kecil. Asupan dan oksidasi karbohidrat di regulasi sangat ketat dan cepat, sehingga perubahan oksidasi karbohidrat mengakibatkan perubahan asupan karbohidrat. Bila cadangan lemak tubuh rendah dan asupan karbohidrat berlebihan, maka kelebihan energi dari karbohidrat sekitar 60-80% disimpan dalam bentuk lemak tubuh. Lemak mempunyai kapasitas penyimpanan yang tidak terbatas. Kelebihan asupan lemak tidak diiringi peningkatan oksidasi lemak sehingga sekitar 96% lemak akan disimpan dalam jaringan lemak.1 

3. Faktor sosial ekonomi. 

Perubahan pengetahuan, sikap, perilaku dan gaya hidup, pola makan, serta peningkatan pendapatan mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi.5 Suatu data menunjukkan bahwa beberapa tahun terakhir terlihat adanya perubahan gaya hidup yang menjurus pada penurunan aktifitas fisik, seperti: ke sekolah dengan naik kendaraan dan kurangnya aktifitas bermain dengan teman serta lingkungan rumah yang tidak memungkinkan anak-anak bermain diluar rumah, sehingga anak lebih senang bermain komputer / games, nonton TV atau video dibanding melakukan aktifitas fisik. Selain itu juga ketersediaan dan harga dari junk food yang mudah terjangkau akan berisiko menimbulkan obesitas.12

Definition and Criteria for Obesity

Obesity is defined as a disorder or disease characterized by the accumulation of excess body fat tissue . To determine the required criteria for obesity based on anthropometric measurements and laboratory investigation or , in general use :

Measurement of body weight (BW ) were compared with the standard and is called obese when B > 120 % BB standar.4

Measurement of body weight compared to height ( weight / height ) . Said to be obese when weight / height > 95th percentile or > 120 % 6 or Z -score ≥ + 2 SD.1

Measurement of subcutaneous fat by measuring skinfold thickness ( thickness of skin folds / TLK ) . As an indicator of obesity when TLK Triceps > 85.6 percentile

Fat measurement laboratory , for example densitometry , hydrometric etc. . which is not used in children because it is difficult and impractical . DXA is the most accurate method , but it is not practical to dilapangan.4

Body Mass Index ( BMI ) > 95th percentile as an indicator obesitas.

Obesity started to become a health problem throughout the world , even the WHO declared that obesity is already a global epidemic , so obesity is already a health problem that must be ditangani . In Indonesia , especially in large cities , with the lifestyle changes that lead to westernization and sedentary result in a change of diet / consumption society refers to a diet high in calories , high in fat and cholesterol , 2.3 mainly to supply food ready food ( fast food ) that impact increases the risk obesitas.

The prevalence of obesity increased from year to year , both in the developed and developing countries . Based SUSENAS , the prevalence of obesity ( > 120 % raw median WHO / NCHS ) in infants has increased in both urban and rural . In urban areas in 1989 found 4.6 % of men and 5.9 % of women , rising to 6.3 % of men and 8 % of women in 1992 and in the countryside in 1989 found 2.3 % of men and 3.8 % of women , rising to 3.9 % of men and 4.7 % of women in 1992.2

Obesity in childhood is at high risk of becoming obese adults and potentially future metabolic disease and degenerative diseases in the future . 1,3,4 blood lipid profile in obese children resemble lipid profile in cardiovascular disease and obese children are at risk of hypertension over long 4 Sharif study found hypertension in 20-30 % of children are obese , especially obese type abdominal.5 Thus obesity in children requires serious attention and  that as early as possible , by involving parents .

Developments trip Obesity
According to Dietz , there are 3 critical periods in the future development of the child in relation to the occurrence of obesity , namely : prenatal period , especially the third trimester of pregnancy , the period of adiposity rebound at the age of 6-7 years and the period of adolescence .

Pengaruh Umur Terhadap Kesehatan

Hubungan Umur Terhadap Tingkat Keparahan 

Setelah dilakukan penelitian, didapatlah data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden. Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data, dan analisa data Dari 8 Variabel hubungan Karateristik Individu dan Pola Hidup terhadap Keparahan Penyakit Gagal Ginjal Kronik yang diteliti hanya dua Variable yang paling berhubungan yaitu Umur dan Kebiasaan merokok yang berhubungan terhadap kejadian gagal ginjal kronik. 

Dari hasil penelitian yang saya lakukan, bahwa umur sangat mempengaruhi terjadinya gagal ginjal kronik. Apabila umur penderita lebih dari 40 tahun, maka dinding arteri akan mengalami penebalan karena adanya penumpukan zat kimia yang semakin lama semakin bertambah, serta berkurangnya aktifitas yang dilakukan penderita dan makanan yang dikonsumsi pada umur 40 tahun menyebabkan penumpukan dan pembangkitan penyumbat peredaran darah ke jantung tidak lancar. 

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa pen
http://ayuarifahharianja.blogspot.com/
derita dengan kebiasaan merokok yang berisiko mengisap rokok yang menyebabkan peningkatan tekanan darah. Dengan demikian secara nyata dampak rokok berhubungan terhadap kejadian gagal ginjal kronik akan muncul kurang lebih setelah berusia lebih dari 40 tahun. 

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Yulinda (2002) di RSU Dr.Pirngadi Medan, yang menyatakan bahwa penderita gagal ginjal kronik meningkat secara nyata pada kelompok umur > 40 tahun yaitu (64,4 %). 


Hubungan Jenis Kelamin terhadap tingkat keparahan 

Setelah dilakukan penelitian, didapatlah data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden. Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data, dan analisa data Dari 8 Variabel hubungan Karateristik Individu dan Pola Hidup terhadap Keparahan Penyakit Gagal Ginjal Kronik yang diteliti hanya dua Variabel yang paling berhubungan yaitu Jenis Kelamin terhadap kejadian gagal ginjal kronik. 

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa penderita terhadap jenis kelamin sering dijumpain pada laki-laki di karenakan hormone estrogen yang dimiliki laki-laki bersifat anti oksidan 20 dari studi komparatif (Choi dkk,2001). 

Hubungan Pekerjaan terhadap tingkat keparahan 


Setelah dilakukan penelitian, didapatlah data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden. Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data, dan analisa data Dari 8 Variabel hubungan Karakteristik Individu dan Pola Hidup terhadap Keparahan Penyakit Gagal Ginjal Kronik yang diteliti hanya dua Variabel yang paling berhubungan yaitu Pekerjaan terhadap kejadian gagal ginjal kronik. 

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa penderita berdasarkan pekerjaan yang berat akan mengalami penebalan karena adanya penumpukan zat kimia yang semakin lama semakin bertambah, serta kurangnya pergerakan yang dilakukan penderita, penumpukan dan mengakibatkan penyumbatan pada darah sehingga terjadinya gagal ginjal kronik dan pekerjaan dapat berdampak pada kelemahan kemampuan kognitif serta kemampuan membuat keputusan yang menyebabkan kelebihan beban mental (Oktora, 2007). 


Hubungan Obesitas terhadap tingkat keparahan 

Setelah dilakukan penelitian, didapatlah data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden. Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data, dan analisa data Dari 8 Variabel hubungan Karateristik Individu dan Pola Hidup terhadap Keparahan Penyakit Gagal Ginjal Kronik yang diteliti hanya dua Variabel yang paling berhubungan yaitu Obesitas terhadap kejadian gagal ginjal kronik. 

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa penderita berdasarkan obesitas sangat berhubungan dengan gagal ginjal kronik dikarenakan lebih resisten terhadap peningkatan kadar leptin, volume ekspansi, sesak waktu tidur dan bila peningkatan tekanan darah tidak dikontrol akan mempercepat ginjal kehilangan fungsi (Ronco dkk, 2008). 

Hubungan Pola Makan terhadap tingkat keparahan 


Setelah dilakukan penelitian, didapatlah data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden. Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data, dan analisa data Dari 8 Variabel hubungan Karakteristik Individu dan Pola Hidup terhadap Keparahan Penyakit Gagal Ginjal Kronik yang diteliti hanya dua variabel yang paling berhubungan yaitu Pola Makan terhadap kejadian gagal ginjal kronik. 

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa penderita berdasarkan pola makan yang sehat tentunya mengandung semua unsure gizi seimbang sesuai kebutuhan tubuh, baik protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air dan menghindari makanan yang berpengawet dan mengurangi makanan yang bersantan (Wafiq Hisyam, 2007). Dari kuesioner yang dibagikan kepada responden lebih banyak menjawab pertanyaan pola makan.

Hubungan Aktifitas Fisik terhadap tingkat keparahan 


Setelah dilakukan penelitian, didapatlah data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden. Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data, dan analisa data Dari 8 Variabel hubungan Karakteristik Individu dan Pola Hidup terhadap Keparahan Penyakit Gagal Ginjal Kronik yang diteliti hanya dua Variabel yang paling berhubungan yaitu Aktifitas Fisik terhadap kejadian gagal ginjal kronik. 

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa penderita dengan aktifitas fisik yang dilakukan secara tidak teratur cenderung meningkat risiko menderita gagal ginjal kronik adalah individu yang lebih banyak duduk, latihan fisik tidak mencapai 30 menit dengan aktifitas minimal 3 kali seminggu (Ramadhan, 2008). Dari kuesioner yang dibagikan kepada responden lebih banyak menjawab pertanyaan aktifitas fisik.


Hubungan Kebiasaan Merokok terhadap tingkat keparahan 


Setelah dilakukan penelitian, didapatlah data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden. Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data, dan analisa data Dari 8 Variabel hubungan Karakteristik Individu dan Pola Hidup terhadap Keparahan Penyakit Gagal Ginjal Kronik yang diteliti hanya dua Variabel yang paling berhubungan yaitu Kebiasaan Merokok terhadap kejadian gagal ginjal kronik. 

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa penderita dengan kebiasaan merokok yang berisiko dengan menghisap rokok lebih dari 10 batang/ hari yang menyebabkan tekanan darah dengan demikian secara nyata dampak rokok berpengaruh terhadap gagal ginjal kronik. Dikarenakan beberapa zat kimia dalam rokok bersifat kumulatif (Shankar dkk, 2006). Dari kuesioner yang diberikan kepada responden lebih banyak menjawab pertanyaan kebiasaan merokok dari jawaban nomor 1, 2, 4. 

Hubungan Kebiasaan Mengkonsumsi Alkohol terhadap tingkat keparahan 


Setelah dilakukan penelitian, didapatlah data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden. Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data, dan analisa data Dari 8 Variabel hubungan Karakteristik Individu dan Pola Hidup terhadap Keparahan Penyakit Gagal Ginjal Kronik yang diteliti hanya dua Variabel yang paling berhubungan yaitu Kebiasaan Mengkonsumsi Alkohol terhadap kejadian gagal ginjal kronik. 

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa penderita dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol dapat mempengaruhi sistem tubuh, menurunkan kemampuan sel darah putih untuk melawan penyakit, kelenjar endokrin yang mana minimum 2 atau 3 gelas alkohol dapat menyebabkan kematian ( Ayers, 2007). Dari kuesioner yang dibagikan kepada responden lebih banyak menjawab pertanyaan kebiasaan mengkonsumsi alkohol.

Analisis Bivariat


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan karekteristik Individu dan Pola Hidup Terhadap Keparahan penyakit Gagal Ginjal Kronik di RSU Dr.Pirngadi Medan. Untuk mengetahui hubungan tersebut telah dilakukan uji statistik yang disajikan pada table berikut : 

Tabel Hubungan karekteristik Terhadap Tingkat Keparahan Penyakit Gagal Ginjal Kronik 
Di RSU Dr.Pirngadi Medan
No
Variabel
Tingkat keparahan
Tingkat tidak keparahan
P
N
%
N
%
1
Umur
<40
>40




0,000
(23,35)
1
1,6
10
15,9
43
98,4
9
84,1
Total
44
100
19
100
2
Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan




0,012
(6,264)
13
50,8
12
19,0
31
49,2
7
81,0
Total
44
100
19
100
3
Pekerjaan
Bekerja
Tidak Bekerja




0,000
(18,909)
38
60,3
6
79,4
6
39,7
13
20,6
Total
44
100
19
100
4
Obesitas
Obesitas
Tidak Obesitas




0,000
(20,474)
40
63,5
7
81,0
4
36,5
12
19,0
Total
44
100
19
100

Tabel Hubungan Pola Hidup Terhadap Tingkat Keparahan 
Penyakit Gagal Ginjal Kronik Di RSU Dr.Pirngadi Medan
No
Variabel
Tingkat keparahan
Tingkat tidak keparahan
P
N
%
N
%
1
Pola hidup
Teratur
Tidak teratur




0,000
(26,376)
2
33,3
12
19,0
42
66,7
7
81,0
Total
44
100
19
100
2
Aktifitas fisik
Berat
Tidak berat




0,000
(29,846)
42
66,7
6
79,4
2
33,3
13
20,6
Total
44
100
19
100
3
Kebiasaan merokok
merokok
Tidak merokok




0,000
(29,846)
42
66,7
6
79,4
2
33,3
13
20,6
Total
44
100
19
100
4
Konsumsi alkohol
Mengkonsumsi alkohol
Tidak mengkonsumsi alkohol




0,000
(37,734)
41
65,1
3
74,6
3
34,9
16
25,4
Total
44
100
19
100


Dari tabel diatas, Dapat dilihat dari 2 Variabel yaitu Karekteristik Individu dan Pola Hidup yang dilakukan dengan analisa Bivariat. Dari Variabel Karekteristik Individu yang berhubungan adalah Umur dapat dilihat bahwa dari 44 Responden yang menderita gagal ginjal kronik lebih banyak pada umur > 40 Tahun sebanyak 43 (98,4 %) sedangkan dari 19 Responden yang tidak menderita gagal ginjal kronik responden yang berada pada umur < 40 Tahun (15,9%). Berdasarkan Analisa Bivariat dengan uji Chi-square di peroleh P = 0,000 yang berarti ada hubungan yang bermakna secara Statistik antar Umur dengan kejadian penyakit gagal ginjal kronik pada pasien di RSU Dr. Pirngadi Medan. 

Dan dari variabel karakteristik yang berhubungan terhadap Jenis kelamin yang dapat dilihat bahwa 44 orang responden di dapatkan penderita gagal ginjal kronik yang lebih banyak menderita gagal ginjal kronik dengan jenis kelamin yang berisiko sebanyak 31 orang ( 50,8 %), Berdasarkan analisa bivariat dengan uji chi- square di peroleh P = 0,012 yang berakti ada hubungan yang bermakna secara statistik antara jenis kelamin terhadap kejadian gagal ginjal kronik pada pasien rawat jalan di RSU Dr.Pirngadi medan. 

Dan dari variabel karakteristik yang berhubungan terhadap Pekerjaan yang dapat dilihat bahwa 44 orang responden di dapatkan penderita gagal ginjal kronik yang lebih banyak menderita gagal ginjal kronik dengan jenis kelamin yang berisiko sebanyak 38 orang ( 60,3 %), Berdasarkan analisa bivariat dengan uji chi- square di peroleh P = 0,000 yang berakti ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pekerjaan terhadap kejadian gagal ginjal kronik pada pasien rawat jalan di RSU Dr.Pirngadi medan. 

Dan dari variabel karakteristik yang berhubungan terhadap Obesitas yang dapat dilihat bahwa 44 orang responden di dapatkan penderita gagal ginjal kronik yang lebih banyak menderita gagal ginjal kronik dengan jenis kelamin yang berisiko sebanyak 40 orang ( 63,5 %), Berdasarkan analisa bivariat dengan uji chi- square di peroleh P = 0,000 yang berakti ada hubungan yang bermakna secara statistik antara obesitas terhadap kejadian gagal ginjal kronik pada pasien rawat jalan di RSU Dr.Pirngadi medan. 

Dan dari tabel 4.10 diatas, variabel pola hidup yang berhubungan dengan pola makan yang dapat dilihat bahwa dari 44 responden di dapatkan penderita gagal ginjal kronik yang lebih banyak menderita gagal ginjal kronik dengan pola makan yang berisiko sebanyak 42 orang ( 66,7 %), Berdasarkan analisa bivariat dengan uji chi- square di peroleh P = 0,000 yang berakti ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pola makan terhadap kejadian gagal ginjal kronik pada pasien rawat jalan di RSU Dr.Pirngadi medan. 

Dan dari variabel pola hidup yang berhubungan dengan aktifitas fisik yang dapat dilihat bahwa dari 44 responden di dapatkan penderita gagal ginjal kronik yang lebih banyak menderita gagal ginjal kronik dengan pola makan yang berisiko sebanyak 42 orang ( 66,7 %), Berdasarkan analisa bivariat dengan uji chi- square di peroleh P = 0,000 yang berakti ada hubungan yang bermakna secara statistik antara aktifitas fisik terhadap kejadian gagal ginjal kronik pada pasien rawat jalan di RSU Dr.Pirngadi medan. 

Dan dari variabel pola hidup yang berhubungan dengan kebiasaan merokok yang dapat dilihat bahwa dari 44 responden di dapatkan penderita gagal ginjal kronik yang lebih banyak menderita gagal ginjal kronik dengan pola makan yang berisiko sebanyak 42 orang ( 66,7 %), Berdasarkan analisa bivariat dengan uji chi- square di peroleh P = 0,000 yang berakti ada hubungan yang bermakna secara statistik antara kebiasaan merokok terhadap kejadian gagal ginjal kronik pada pasien rawat jalan di RSU Dr.Pirngadi medan. 

Dan dari variabel pola hidup yang berhubungan dengan kebiasaan mengkonsumsi alkohol yang dapat dilihat bahwa dari 44 responden di dapatkan penderita gagal ginjal kronik yang lebih banyak menderita gagal ginjal kronik dengan pola makan yang berisiko sebanyak 41 orang ( 65,1%), Berdasarkan analisa bivariat dengan uji chi- square di peroleh P = 0,000 yang berakti ada hubungan yang bermakna secara statistik antara kebiasaan mengkonsumsi alkohol terhadap kejadian gagal ginjal kronik pada pasien rawat jalan di RSU Dr.Pirngadi medan.
 

Ilmu Kesehatan | Blog Yang Berkaitan Dinul Islami