How to cope with nausea during early pregnancy

First child was indeed very deg - deg right for women , because it is a new beginning of first childbirth , and during pregnancy , especially pregnant roughly 3-5 months to feel sick , but do not worry here are ways to overcome the nausea , let us see the discussion below .

Tips to Overcome Nausea Vomiting During Pregnancy Young ( Morning Sickness ) What is morning sickness ? Morning sickness or nausea and vomiting usually occur during the initial 3 months of pregnancy ( first trimester ) . Every pregnant woman will have different degrees of nausea different , there is not much to feel anything , but there is also a feeling of nausea and even feel very nauseous and vomiting all the time and require treatment ( hyperemesis gravidarum ) . Remember every pregnant woman with the special characteristics of each , as well as you !

Several Ways to treat nausea during early pregnancy to help you cope with " morning sickness " or nausea - vomiting during early pregnancy :
  1. Eat small amounts frequently , do not eat in large quantities or portions would only make you grow sick . Try to eat when you can eat , with small but frequent portions .
    http://ayuarifahharianja.blogspot.com/
  2. Eating foods high in carbohydrates and proteins that can help overcome your nausea . Many fruit and vegetables and foods high in carbohydrates such as bread , potatoes , biscuits , etc.
  3. In the morning when you wake up do not jump to hasty wake up , try to sit first and only slowly stood up . If you feel very sick when I wake up in the morning prepare snack or biscuit near your bed , and you can eat it first before you try to stand up .
  4. Avoid fatty foods , oily and spicy that will aggravate your nausea .
  5. Drink enough to avoid dehydration from vomiting . Drink water , or juice . Avoid drinks that contain caffeine and carbonates .
  6. Vitamin pregnancy sometimes worsen nausea , but you still need folate for pregnancy this . If nausea and vomiting is very severe , consult your doctor so that it can be given the best advice for vitamins that you will consume . And your doctor will probably give you medicine for nausea when necessary .
  7. Vitamin B 6 is effective for reducing nausea in pregnant women . Should first consult with your doctor to use .
Traditional Medicine : Usually people use ginger in reducing nausea in a variety of traditional medicine . Research in Australia states that ginger can be used as a traditional medicine to overcome the nausea and safe for mother and baby . In some pregnant women who consume fresh ginger or ginger candy to overcome sickness .

Rest and relax will help you cope with nausea vomiting . Because if you stress will only aggravate your nausea . . Uptake time for you ! try to get enough rest and relax , listen to music , read a baby book or your favorite magazine etc. . Face your pregnancy with happiness , because it is grace .

Believe Morning sickness or nausea vomiting in early pregnancy it will pass without you realizing, and this will be one exciting experience during your pregnancy - just think about the little one will be coming soon with a million happiness .

Warning for women amyl order : Contact your doctor if nausea - vomiting became so great , so you can not eat or drink anything that can cause lack of fluids / dehydration . may be

Dampak Obesitas Pada Anak

Berikut ini adalah Dampak Obesitas Pada Anak : 

1. Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskuler 

Faktor Risiko ini meliputi peningkatan: kadar insulin, trigliserida, LDL-kolesterol dan tekanan darah sistolik serta penurunan kadar HDL- kolesterol. Risiko penyakit Kardiovaskuler di usia dewasa pada anak obesitas sebesar 1,7 - 2,6. IMT mempunyai hubungan yang kuat (r = 0,5) dengan kadar insulin. Anak dengan IMT > persentile ke 99, 40% diantaranya mempunyai kadar insulin tinggi, 15% mempunyai kadar HDL-kolesterol yang rendah dan 33% dengan kadar trigliserida tinggi.15 Anak obesitas cenderung mengalami peningkatan tekanan darah dan denyut jantung, sekitar 20-30% menderita hipertensi.5 

2. Diabetes Mellitus tipe-2 

Diabetes mellitus tipe-2 jarang ditemukan pada anak obesitas.5,15 Prevalensi penurunan glukosa toleran test pada anak obesitas adalah 25% sedang diabetes mellitus tipe-2 hanya 4%. Hampir semua anak obesitas dengan diabetes mellitus tipe-2 mempunyai IMT > + 3SD atau > persentile ke 99. 16 

3. Obstruktive sleep apnea 
http://ayuarifahharianja.blogspot.com/
Sering dijumpai pada anak obesitas dengan kejadian 1/100 dengan gejala mengorok.5 Penyebabnya adalah penebalan jaringan lemak didaerah dinding dada dan perut yang mengganggu pergerakan dinding dada dan diafragma, sehingga terjadi penurunan volume dan perubahan pola ventilasi paru serta meningkatkan beban kerja otot pernafasan. Pada saat tidur terjadi penurunan tonus otot dinding dada yang disertai penurunan saturasi oksigen dan peningkatan kadar CO2, serta penurunan tonus otot yang mengatur pergerakan lidah yang menyebabkan lidah jatuh kearah dinding belakang faring yang mengakibatkan obstruksi saluran nafas intermiten dan menyebabkan tidur gelisah, sehingga keesokan harinya anak cenderung mengantuk dan hipoventilasi. Gejala ini berkurang seiring dengan penurunan berat badan.5,10 

4. Gangguan ortopedik 

Pada anak obesitas cenderung berisiko mengalami gangguan ortopedik yang disebabkan kelebihan berat badan, yaitu tergelincirnya epifisis kaput femoris yang menimbulkan gejala nyeri panggul atau lutut dan terbatasnya gerakan panggul.5 

5. Pseudotumor serebri 

Pseudotumor serebri akibat peningkatan ringan tekanan intrakranial pada obesitas disebabkan oleh gangguan jantung dan paru-2 yang menyebabkan peningkatan kadar CO2 dan memberikan gejala sakit kepala, papil edema, diplopia, kehilangan lapangan pandang perifer dan iritabilitas.5

Mekanisme Keseimbangan Energi dan Berat Badan

Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu: pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energi dan regulasi sekresi hormon yang terlibat dalam pengaturan penyimpanan energi, melalui sinyal-sinyal efferent yang berpusat di hipotalamus setelah mendapatkan sinyal afferent dari perifer terutama dari jaringan adipose tetapi juga dari usus dan jaringan otot. Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan asupan makanan, menurunkan pengeluaran energi) dan katabolik (anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang. 

Sinyal pendek (situasional) yang mempengaruhi porsi makan dan waktu makan serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yaitu kolesistokinin (CCK) yang mempunyai peranan paling penting dalam menurunkan porsi makan dibanding glukagon, bombesin dan somatostatin. Sinyal panjang yang diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan keseimbangan energi. Didalam system ini leptin memegang peran utama sebagai pengendali berat badan. Sumber utama leptin adalah jaringan adiposa, yang disekresi langsung masuk ke peredaran darah dan kemudian menembus sawar darah otak menuju ke hipotalamus. Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan maka massa jaringan adiposa meningkat, disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam peredaran darah. Leptin kemudian merangsang anorexigenic center di hipotalamus agar menurunkan produksi NPY, sehingga terjadi penurunan nafsu makan dan asupan makanan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari asupan energi, maka massa jaringan adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu makan dan asupan makanan. Pada sebagian besar orang obesitas, mekanisme ini tidak berjalan walaupun kadar leptin didalam darah tinggi dan disebut sebagai resistensi leptin. 
http://ayuarifahharianja.blogspot.com/

Beberapa neurotransmiter, yaitu norepineprin, dopamin, asetilkolin dan serotonin berperan juga dalam regulasi keseimbangan energi, demikian juga dengan beberapa neuropeptide dan hormon perifer yang juga mempengaruhi asupan makanan dan berperan didalam pengendalian kebiasaan makan. Neuropeptide-neuropeptide ini meliputi neuropeptide Y (NPY), melanin-concentrating hormone, corticotropin-releasing hormone (CRH), bombesin dan somatostatin. NPY dan CRH terdapat di nukleus paraventrikuler (PVN) yang terletak di bagian dorsal dan rostral ventromedial hypothalamic (VMH), sehingga lesi pada daerah ini akan mempengaruhi kebiasaan makan dan keseimbangan energi. NPY merupakan neuropeptida perangsang nafsu makan dan diduga berperan didalam respon fisiologi terhadap starvasi dan obesitas. 


Nukleus VMH merupakan satiety center / anorexigenic center . Stimulasi pada nukleus VMH akan menghambat asupan makanan dan kerusakan nukleus ini akan menyebabkan makan yang berlebihan (hiperfagia) dan obesitas. Sedang nukleus area lateral hipotalamus (LHA) merupakan feeding center / orexigenic center dan memberikan pengaruh yang berlawanan. 

Leptin dan insulin yang bekerja pada nukleus arcuatus (ARC), merangsang neuron proopimelanocortin / cocain and amphetamine-regulated transcript (POMC/ CART) dan menimbulkan efek katabolik (menghambat nafsu makan, meningkatkan pengeluaran energi) dan pada saat yang sama menghambat neuron NPY/AGRP (agouti related peptide) dan menimbulkan efek anabolik (merangsang nafsu makan, menurunkan pengeluaran energi). Pelepasan neuropeptida-neuropeptida NPY/AGRP dan POMC/CART oleh neuron-neuron tersebut kedalam nukleus PVN dan LHA, yang selanjutnya akan memediasi efek insulin dan leptin dengan cara mengatur respon neuron-neuron dalam nukleus traktus solitarius (NTS) di otak belakang terhadap sinyal rasa kenyang (oleh kolesistokinin dan distensi lambung) yang timbul setelah makan. Sinyal rasa kenyang ini menuju NTS terutama melalui nervus vagus. Jalur descending anabolik dan katabolik diduga mempengaruhi respon neuron di NTS yang mengatur penghentian makan. Jalur katabolik meningkatkan dan jalur anabolik menurunkan efek sinyal kenyang jalur pendek, sehingga menyebabkan penyesuaian porsi makan yang mempunyai efek jangka panjang pada perubahan asupan makan dan berat badan.

Faktor-faktor Penyebab Obesitas

Berdasarkan hukum termodinamik, obesitas disebabkan adanya keseimbangan energi positif, sebagai akibat ketidak seimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi, sehingga terjadi kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak.3,4 Sebagian besar gangguan keseimbangan energi ini disebabkan oleh faktor eksogen/nutrisional (obesitas primer) sedang faktor endogen (obesitas sekunder) akibat kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik hanya sekitar 10%.

Penyebab obesitas belum diketahui secara pasti. Obesitas adalah suatu penyakit multifaktorial yang diduga bahwa sebagian besar obesitas disebabkan oleh karena interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan, antara lain aktifitas, gaya hidup, sosial ekonomi dan nutrisional yaitu perilaku makan dan pemberian makanan padat terlalu dini pada bayi. Berikut ini ada dua faktor penyebab Obesitas yaitu : 

1. Faktor Genetik


Parental fatness merupakan faktor genetik yang berperanan besar. Bila kedua orang tua obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas; bila salah satu orang tua obesitas, kejadian obesitas menjadi 40% dan bila kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi menjadi 14%.5 Hipotesis Barker menyatakan bahwa perubahan lingkungan nutrisi intrauterin menyebabkan gangguan perkembangan organ-organ tubuh terutama kerentanan terhadap pemrograman janin yang dikemudian hari bersama-sama dengan pengaruh diet dan stress lingkungan merupakan predisposisi timbulnya berbagai penyakit dikemudian hari. Mekanisme kerentanan genetik terhadap obesitas melalui efek pada resting metabolic rate, thermogenesis non exercise, kecepatan oksidasi lipid dan kontrol nafsu makan yang jelek.10,11 Dengan demikian kerentanan terhadap obesitas ditentukan secara genetik sedang lingkungan menentukan ekspresi fenotipe.11 


2.  Faktor Lingkungan 


1. Aktifitas fisik. 

http://ayuarifahharianja.blogspot.com/Aktifitas fisik merupakan komponen utama dari energy expenditure, yaitu sekitar 20-50% dari total energy expenditure. Penelitian di negara maju mendapatkan hubungan antara aktifitas fisik yang rendah dengan kejadian obesitas. Individu dengan aktivitas fisik yang rendah mempunyai risiko peningkatan berat badan sebesar ≥ 5 kg.10 Penelitian di Jepang menunjukkan risiko obesitas yang rendah (OR:0,48) pada kelompok yang mempunyai kebiasaan olah raga, sedang penelitian di Amerika menunjukkan penurunan berat badan dengan jogging (OR: 0,57), aerobik (OR: 0,59), tetapi untuk olah raga tim dan tenis tidak menunjukkan penurunan berat badan yang signifikan.8 

Penelitian terhadap anak Amerika dengan tingkat sosial ekonomi yang sama menunjukkan bahwa mereka yang nonton TV ≥ 5 jam perhari mempunyai risiko obesitas sebesar 5,3 kali lebih besar dibanding mereka yang nonton TV ≤ 2 jam setiap harinya.10 

2. Faktor nutrisional. 

Peranan faktor nutrisi dimulai sejak dalam kandungan dimana jumlah lemak tubuh dan pertumbuhan bayi dipengaruhi berat badan ibu. Kenaikan berat badan dan lemak anak dipengaruhi oleh : waktu pertama kali mendapat makanan padat, asupan tinggi kalori dari karbohidrat dan lemak5 serta kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung energi tinggi.3,5 

Penelitian di Amerika dan Finlandia menunjukkan bahwa kelompok dengan asupan tinggi lemak mempunyai risiko peningkatan berat badan lebih besar dibanding kelompok dengan asupan rendah lemak dengan OR 1.7. Penelitian lain menunjukkan peningkatan konsumsi daging akan meningkatkan risiko obesitas sebesar 1,46 kali.8 Keadaan ini disebabkan karena makanan berlemak mempunyai energy density lebih besar dan lebih tidak mengenyangkan serta mempunyai efek termogenesis yang lebih kecil dibandingkan makanan yang banyak mengandung protein dan karbohidrat. Makanan berlemak juga mempunyai rasa yang lezat sehingga akan meningkatkan selera makan yang akhirnya terjadi konsumsi yang berlebihan.10 Selain itu kapasitas penyimpanan makronutrien juga menentukan keseimbangan energi. Protein mempunyai kapasitas penyimpanan sebagai protein tubuh dalam jumlah terbatas dan metabolisme asam amino di regulasi dengan ketat, sehingga bila intake protein berlebihan dapat dipastikan akan di oksidasi; sedang karbohidrat mempunyai kapasitas penyimpanan dalam bentuk glikogen hanya dalam jumlah kecil. Asupan dan oksidasi karbohidrat di regulasi sangat ketat dan cepat, sehingga perubahan oksidasi karbohidrat mengakibatkan perubahan asupan karbohidrat. Bila cadangan lemak tubuh rendah dan asupan karbohidrat berlebihan, maka kelebihan energi dari karbohidrat sekitar 60-80% disimpan dalam bentuk lemak tubuh. Lemak mempunyai kapasitas penyimpanan yang tidak terbatas. Kelebihan asupan lemak tidak diiringi peningkatan oksidasi lemak sehingga sekitar 96% lemak akan disimpan dalam jaringan lemak.1 

3. Faktor sosial ekonomi. 

Perubahan pengetahuan, sikap, perilaku dan gaya hidup, pola makan, serta peningkatan pendapatan mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi.5 Suatu data menunjukkan bahwa beberapa tahun terakhir terlihat adanya perubahan gaya hidup yang menjurus pada penurunan aktifitas fisik, seperti: ke sekolah dengan naik kendaraan dan kurangnya aktifitas bermain dengan teman serta lingkungan rumah yang tidak memungkinkan anak-anak bermain diluar rumah, sehingga anak lebih senang bermain komputer / games, nonton TV atau video dibanding melakukan aktifitas fisik. Selain itu juga ketersediaan dan harga dari junk food yang mudah terjangkau akan berisiko menimbulkan obesitas.12

Definition and Criteria for Obesity

Obesity is defined as a disorder or disease characterized by the accumulation of excess body fat tissue . To determine the required criteria for obesity based on anthropometric measurements and laboratory investigation or , in general use :

Measurement of body weight (BW ) were compared with the standard and is called obese when B > 120 % BB standar.4

Measurement of body weight compared to height ( weight / height ) . Said to be obese when weight / height > 95th percentile or > 120 % 6 or Z -score ≥ + 2 SD.1

Measurement of subcutaneous fat by measuring skinfold thickness ( thickness of skin folds / TLK ) . As an indicator of obesity when TLK Triceps > 85.6 percentile

Fat measurement laboratory , for example densitometry , hydrometric etc. . which is not used in children because it is difficult and impractical . DXA is the most accurate method , but it is not practical to dilapangan.4

Body Mass Index ( BMI ) > 95th percentile as an indicator obesitas.

Obesity started to become a health problem throughout the world , even the WHO declared that obesity is already a global epidemic , so obesity is already a health problem that must be ditangani . In Indonesia , especially in large cities , with the lifestyle changes that lead to westernization and sedentary result in a change of diet / consumption society refers to a diet high in calories , high in fat and cholesterol , 2.3 mainly to supply food ready food ( fast food ) that impact increases the risk obesitas.

The prevalence of obesity increased from year to year , both in the developed and developing countries . Based SUSENAS , the prevalence of obesity ( > 120 % raw median WHO / NCHS ) in infants has increased in both urban and rural . In urban areas in 1989 found 4.6 % of men and 5.9 % of women , rising to 6.3 % of men and 8 % of women in 1992 and in the countryside in 1989 found 2.3 % of men and 3.8 % of women , rising to 3.9 % of men and 4.7 % of women in 1992.2

Obesity in childhood is at high risk of becoming obese adults and potentially future metabolic disease and degenerative diseases in the future . 1,3,4 blood lipid profile in obese children resemble lipid profile in cardiovascular disease and obese children are at risk of hypertension over long 4 Sharif study found hypertension in 20-30 % of children are obese , especially obese type abdominal.5 Thus obesity in children requires serious attention and  that as early as possible , by involving parents .

Developments trip Obesity
According to Dietz , there are 3 critical periods in the future development of the child in relation to the occurrence of obesity , namely : prenatal period , especially the third trimester of pregnancy , the period of adiposity rebound at the age of 6-7 years and the period of adolescence .
 

Ilmu Kesehatan | Blog Yang Berkaitan Dinul Islami