Fungsi Otak Kanan Manusia

http://ayuarifahharianja.blogspot.com/Otak Manusia terdiri dari otak Kanan dan Otak Kiri, sekarang ini akan dipaparkan bagaimana fungsi Otak Kanan Manusia, yaitu sebagai berikut :

Empat masalah yang sering dihadapi :

Masyarakat dan sistem pendidikan terlalu menekankan aktivitas mental belahan otak kiri.

Masyarakat umumnya lebih mementingkan analisis, logika, matematika dan jarang sekali memperhatikan atau kurang mengoptimalkan fungsi belahan otak kanan dalam pembelajaran (Khoo, Adam 1999). Pada kenyataannya memang sejak awal pendidikan tidak lebih dari 10 % mata pelajaran yang memakai fungsi belahan otak kanan, seperti kesenian dan musik. Bagaimana cara mendayagunakan belahan otak kanan atau memaksimalkan fungsi belahan otak kanan untuk pembelajaran?

Materi pengajaran dan pembelajaran yang kurang menarik.


Mahasiswa sudah memiliki pengalaman belajar paling sedikit 12 tahun. Sayangnya pengalaman belajar mereka tidak selalu menyenangkan dan menarik (Malouf Doug, 2000). Banyak yang mengeluh materinya membosankan, kering, dan pembelajaran hanya di belakang meja, sangat formal. Bagaimana merancang materi pengajaran yang menarik? Ini berkaitan dengan pendekatan atau strategi pembelajaran.

Hambatan mencapai target belajar bahasa, bahasa ekspresif.

Winitz (1981,1982), Nord (1981) dan Krashen (1978) dalam Asher (1996) mengatakan bahwa “production cannot be taught”. “Production can be shaped perhaps, but not directly taught”. Pengalaman membuktikan bahwa terlalu dini mengharapkan mahasiswa untuk berbicara, bisa membuat mereka stress dan selanjutnya menghambat aspek komunikatif para pembelajar. Bagaimana pendekatan yang lebih baik untuk mencapai kemampuan berkomunikasi ?

Langkanya bahan ajar untuk penutur asing. Beberapa bahan ajar bisa didapatkan di Singapura namun penulis ingin memperkayanya, juga dengan mengajarkan budaya melalui bahasa.  Mengajarkan budaya Indonesia pada penutur asing sama pentingnya dengan mengajarkan bahasa Indonesia itu sendiri. Bagaimana pembelajaran yang kreatif dan bervariasi ?

TUJUAN
Berdasarkan 4 masalah di atas, Erlin Barnard, Fanny Loe, Lucia Lawu dan penulis merancang paket materi pengajaran dengan pendekatan yang bervariasi untuk mencapai tujuan akhir (target bahasa) yang sama. Sebelum mahasiswa diharapkan berbicara, mahasiswa diberi berbagai masukan untuk mencapai pemahaman bahasa. Masukan dan respons mahasiswa dibuat sedemikian rupa agar kedua belahan otak kiri dan kanan berfungsi optimal, bisa dalam bentuk permainan, peragaan, menggambar, menyanyi , drama, bercerita dan berimajinasi.

Paket pengajaran ini merupakan bahan ajar yang dikembangkan dari materi pengajaran “oral proficiency” ciptaan Erlin Barnard dan Luciawati Suharni. Bahan ajar ini diujicobakan pada mahasiswa National University of Singapore semester satu dan dua. Pembelajar dibagi dalam dua kelompok, yang satu diberi bahan ajar ketrampilan oral, dan kelompok kedua diberi bahan ajar “baru”.
 
BELAHAN OTAK KIRI DAN KANAN.

Setiap belahan otak (kiri atau kanan) mempunyai fungsi yang berbeda. Belahan otak kiri berhubungan dengan logika, analisa, bahasa, rangkaian (sequence) dan matematika. Jadi belahan otak kiri berespons terhadap masukan-masukan di mana dibutuhkan kemampuan mengupas/meninjau (critiquing), menyatakan (declaring), menganalisa, menjelaskan, berdiskusi dan memutuskan (judging). Belahan otak kanan berkaitan dengan ritme, kreativitas, warna, imajinasi dan dimensi. Jadi belahan otak kanan berfungsi kalau manusia menggambar, menunjuk, memeragakan, bermain, berolahraga, bernyanyi, dan aktivitas motorik lainnya. Sebenarnya kedua belahan otak kiri dan kanan sama penting dan sama kuatnya. Mereka saling melengkapi satu dengan yang lain.

Kalau sampai saat ini pembelajar lebih banyak menggunakan belahan otak kiri, apa yang terjadi kalau sekarang mereka memakai kedua belahan itu sekaligus ? Tentunya secara teoritis pembelajar akan memiliki kekuatan otak yang ganda, karena memakai semua kapasitas otak yang dimilikinya. Bahan ajar yang diciptakan ini memakai strategi mengoptimalkan seluruh kapasitas otak pembelajar.

PEMBELAJARAN YANG MENARIK.
Pembelajar khususnya orang dewasa biasanya takut untuk berbuat kesalahan. Sudah tentu semua proses belajar ada kemungkinan gagal atau membuat kesalahan. Tapi sebagai pengajar kita bisa membuat resiko ini seminimal mungkin. Hal ini agak sulit dicapai kalau pembelajar diminta untuk berbicara dalam bahasa target. Di lain pihak ada pendapat bahwa orang akan belajar secara optimal kalau dia ikut berpartisipasi (Malouf, Doug 2000). Tugas pengajar untuk memikirkan aktivitas apa yang paling optimal, menarik, dinamis dan relatif lebih kecil resikonya.

Malouf (2000) mengajukan format bahan ajar untuk pembelajar dewasa :

1. Tahap pemberian informasi.
Sebelum diberi dialog, pengajar mempersiapkan kerangka berpikir pembelajar   dengan memberikan latar belakang situasi atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan pra-dialog. Hal ini bisa dihubungkan dengan budaya atau kebiasaan masyarakat Indonesia.

Asher (1966) mengatakan : “pembelajaran melalui pancaindera penglihatan  lebih efisien dan bertahan lebih lama dalam ingatan dibandingkan dengan  pendengaran”. Dengan pertimbangan di atas, penulis mengombinasi pemberian dialog melalui audio dengan benda-benda konkrit, gambar, gerakan fisik dan  ekspresi emosi.

2. Tahap peragaan.

Asher (1966) percaya bahwa kondisi yang optimal untuk belajar adalah  bagaimana pembelajar pertama-tama diperkenalkan dengan bahan ajar. Menurutnya, ketrampilan menebak sangat penting dalam belajar dan erat Kaitannya dengan lamanya bertahan dalam ingatan. Implikasinya, jangan berikan terjemahan atau arti langsung kepada pembelajar, tapi biarkan mereka memprosesnya secara mendalam dan menebaknya melalui konteks. 
 
Selain itu Asher mengemukakan : “Semakin tepat pembelajar menebak arti kata, semakin cepat dia belajar kosa kata baru, menyerapnya, mengerti kalimat atau konteksnya dan bertahan lebih lama dalam ingatan”. Artinya, jangan biarkan pembelajar menerka-nerka sendiri, tetapi pengajar harus memperkecil kesalahan menebak dengan memberikan gerakan, ekspresi dan cara konkrit lainnya yang memudahkan pemahaman kosa kata baru. 

3. Tahap pelaksanaan.
Sesudah pemahaman terjadi, pembelajar diharapkan bisa memproduksi secara  terbatas melalui aktivitas yang sederhana. Sesudah itu bisa mengaplikasikannya dalam situasi yang lebih majemuk.

BAHASA RESEPTIF DAN EKSPRESIF
Dalam setiap kebudayaan sepanjang sejarah manusia, anak-anak berbicara dalam “bahasa ibu” setelah lebih dari setahun ibu atau orang2 di sekitarnya berkomunikasi dengan anak itu. Seseorang harus mencapai tahap pemahaman lebih dulu sebelum dia mulai berbicara. Bahkan dapat dikatakan bahwa pemahaman adalah kondisi yang diperlukan sebelum perkataan muncul. Dan pemahaman ini bisa dipercepat melalui pemberian instruksi. Pendekatan ini dipakai oleh Asher untuk mengajarkan bahasa melalui “learning another language through actions”. Usaha yang optimal dilakukan dengan cara yang menarik perhatian pembelajar untuk menangkap makna pesannya. Hal ini berguna untuk menguatkan pengertian bahasa dalam waktu singkat karena pengajaran dilakukan terkonsentrasi, bervariasi, menarik dan direncanakan secara khusus. Alat2 peragapun hendaknya bertahap, mulai dari benda2 konkrit, gambar2 sampai akhirnya ke kata2 yang tertulis. Kalau pemahaman ini sudah benar2 meresap, maka bahasa ekspresif akan muncul secara spontan (Asher, James, 1996).

Masa pubertas adalah masa kritis yang menentukan apakah seseorang akan mencapai kemampuan berkomunikasi yang hampir sama dengan penutur asli atau tidak. Dalam belajar bahasa ada pendapat, kalau pengajar sejak awal membiarkan kesalahan2 dalam produksi (bahasa ekspresif), maka pembelajar akan terus menerapkan “kebiasaan buruk” ini, dan akhirnya kesalahan makin sulit untuk diperbaiki. Di lain pihak Asher and Garcia (1969, 1982, 1986) dalam penelitiannya pada imigran Cuba di San Francisco Bay menemukan bahwa sangat jarang pendatang yang tiba setelah masa pubertas bisa berkomunikasi mendekati penutur asli. Tetapi pendatang ini mampu mencapai kemampuan menyimak atau pemahaman bahasa seperti penutur asli. Inilah yang mendasari penciptaan bahan ajar dengan pendekatan yang lebih mengutamakan kemampuan menyimak dan pemahaman bahasa sebagai dasar yang kuat sebelum mengharapkan tercapainya bahasa ekspresif.

MENGAJARKAN BUDAYA INDONESIA PADA PENUTUR ASING

Melalui dialog mahasiswa diperkenalkan pada autentisitas aspek budaya yang melatar belakangi konteks dialog atau bahasa itu sendiri. Hal ini bisa ditunjukkan melalui peragaan, terutama kalau pengajar mau menunjukkan pentingnya keramahtamahan untuk suksesnya berkomunikasi. Sebelum dialog diperdengarkan, bisa dilakukan tanya jawab pradialog untuk memudahkan pembelajar masuk dalam konteks budaya yang melatarbelakangi dialog. Hal ini perlu ditumbuhkan dalam pikiran pembelajar sebelum mereka mulai mendengar dialog. Pemahaman tentang isi dialog bisa dipermudah dengan bantuan gerakan. Ini akan meningkatkan semangat pembelajar, karena bukan hanya pembelajar saja tapi juga pengajar turut berpartisipasi sehingga proses belajar menjadi lebih dinamis, terbuka, dan interaktif.

0 comments:

Post a Comment

 

Ilmu Kesehatan | Blog Yang Berkaitan Dinul Islami