Sedangkan pada kelompok tanpa keluhan khas, hasil pemeriksaan gula darah yang baru satu kali saja abnormal, belum cukup kuat untuk mendiagnosa DM. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan sekali lagi dengan hasil abnormal, baik kadar glukosa darah puasa maupun sewaktu atau dari hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan kadar glukosa darah pasca pembebanan ≥ 200 mg/dl pada hari lain.13 Tabel berikut ini akan menjelaskan hal tersebut :
Tabel Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dl)
Bukan
DM
|
Belum pasti DM
|
DM
|
||
Kada glukosa darah sewaktu
(mg/dl)
|
Plasma vena
|
<100
|
100 – 199
|
≥ 200
|
Darah kapiler
|
<90
|
90 – 199
|
≥ 200
|
|
Kadar glukosa darah puasa (mgdl)
|
Plasma vena
|
<100
|
100 – 125
|
≥ 126
|
Darah kapiler
|
<90
|
90 – 99
|
≥ 100
|
Penatalaksanaan DM
Tujuan umum penatalaksaan DM ialah memulihkan kekacauan metabolisme sehingga proses metabolik kembali normal dan kadar gula darah dapat dipertahankan agar tetap normal yang sekaligus mencegah atau memperlambat munculnya komplikasi. Pilar utama penatalaksanaan tersebut yaitu perencaan makan (diet), latihan jasmani, obat berkhasiat hipoglikemia dan penyuluhan. Obat yang diberikan adalah anti diabetik oral, yang hanya diberikan jika pengaturan diet yang maksimal tidak berhasil menurunkan kadar glukosa dalam darah. Selain itu pada DM Tipe 1 penyuntikan insulin merupakan terapi yang paling efektif.

0 comments:
Post a Comment