Manusia yang hidup merupakan kesatuan dari jiwa dan raga. Dimensi kehidupan terdiri dari banyak aspek, mulai dari aspek fisik, aspek psikis, aspek sosial, aspek ruhani, aspek budaya hingga aspek emosi. Interaksi manusia dengan lingkungan sosial dan budayanya akan mempengaruhi dimensi kognitif, mempengaruhi dimensi fisik maupun dimensi kesehatan. Aspek lingkungan lokal yang memberikan ruang bagi terjadinya interaksi individu, kelompok indiviodu maupun masyarakat memberikan corak tersendiri terhadap pola pikir dan budaya, termasuk cara pandang terhadap kesehatan, dan pencegahan penyakit. Dari perspektif inilah munculnya tradisi masyarakat dalam bidang kesehatan yang memiliki nilai kebenaran berdasarkan pengalaman spasial. Konsepsi kesehatan menurut budaya Madura adalah salah satu representasi dari tradisi lokal di bidang kesehatan yang memiliki keterbatasan dari sisi spasial.
Kesehatan menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) adalah suatu keadaan yang menunjukkan tidak hanya absennya penyakit saja melainkan juga suatu kondisi yang baik secara sosial, mental, spiritual dan aspek lainnya. Kesehatan dapat diperoleh dari berbagai sebab (input). Masyarakat tradisional meyakini bahwa kecuali penyebab yang bersifat lahiriah (fisikal), kesehatan juga dapat disebabkan oleh hal-hal yang bersifat non lahiriah dan oleh karenanya tidak tampak (ghaib). Dalam merespon penyebab terjadinya gangguan kesehatan inilah setiap masyarakat dapat memiliki variasi dalam hal cara mengatasi, cara mencegah dan juga upaya promotifnya. Sangat dimaklumi jika secara tradisional, terdapat budaya masyarakat untuk memperoleh hidup sehat, mencegah terjadinya gangguan penyakit melalui suatu upaya yang berupa konsep pantangan atau anjuran dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam pendirian rumah tinggal, ritual atau seremonial, dan konsep perawatan tubuh.
Konsep kesehatan menurut pandangan tradisional adalah merupakan satu kesatuan, dengan kata lain, kesehatan itu tidak bisa di pisah pisahkan antara bagian satu dengan lainnya. Hal ini dilatar belakangi oleh kepercayaaan bangsa bangsa tradisional di dunia bahwa kesehatan bukan hanya berkenaan dengan berfunginya organ- organ yang menyusun tubuh kita. Menurut pandangan kesatuan realitas bangsa tradisional, kesehatan yang baik itu meliputi kondisi mental, fisik, kejiwaan/ spiritual, dan emosional yang stabil dari seseorang, anggota keluarga, dan lingkungannya (Wilson, 1971), demikian juga dengan jaminan ekonominya. Dalam latar belakang kehidupan bangsa tradisional, akan dipandang tidak wajar bila seseorang yang tidak bisa menghidupi dirinya dan keluarganya dari hasil satu musim panen untuk mengatakan pada orang lain bahwa dia dalam keadaan sehat. Ini disebabkan karena eksistensi yang begitu berarti yang satu kesatuan bagian dari kesehatan dan pelayanan kesehatan di masyarakat tradisional. Sofora (1982:26) menyatakan bahwa kesehatan yang baik menurut bangsa tradisional di dunia adalah merupakan suatu keharmonisan hubungan antara segala hal yang ada di sekitar kita, dengan Tuhan, dengan makhluk yang terlihat dan yang tidak terlihat.
Ilmu kesehatan barat yang dibangun dengan paradigma ilmu modern memiliki seperangkat metode yang sangat berbeda dengan ilmu kesehatan tradisional, sekalipun tujuannya sama yaitu mencapai hidup sehat. Ilmu kesehatan masyarakat (modern) tentu tidak mengenal atau memasukkan unsur-unsur tradisional dalam menganalisis suatu penyebab terjadinya penyakit (etiologi). Ilmu kesehatan masyarakat (modern) tidak akan sampai pada kesimpulan bahwa dunia gaib yang berupa setan, jin dan mahluk halus berpartisipasi sebagai penyebab terjadinya gangguan kesehatan. Sebaliknya ilmu kesehatan tradisional menjangkau masalah ini. Tradisi yang merupakan sekumpulan pengetahuan masyarakat (endegenous knowledge) mengakui keberadan dunia mistis, dunia yang tidak kasat mata yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan seseorang. Kenyataan ini hampir dapat ditemukan di semua kelompok masyarakat.
Dalam hal pembangunan rumah, ilmu kesehatan modern hanya berbicara mengenai struktur bangunannya. Misalnya bangunan rumah hendanya memiliki ventilasi dan pencahayaan yang baik. Ilmu kesehatan modern tidak berurusan dengan dimana rumah itu akan dibangun, bagaimana posisinya maupun kapan saatnya membangun yang sehat. Sementara itu ilmu kesehatan tradisional menjangkau masalah yang lebih pelik lagi. Tradisi budaya masyarakat memberikan tuntunan dalam membangun rumah tinggal sampai pada posisi tanah tempat rumah akan didirikan, arah hadap dari rumah maupun waktu yang baik untuk memulai pembangunan rumah. Semua pertimbangan tradisional ini adalah terkait erat dan dalam kerangka kesehatan penghuninya yang dapat dikelompokkan sebagai upaya pencegahan maupun promosi kesehatan.
Dalam hal upacara selamatan, tentu ilmu kesehatan modern steril dari masalah ini. Dunia kesehatan modern tidak mengenal sama sekali metode pencegahan suatu wabah penyakit melalui ritual selamatan. Ritual selamatan walaupun secara isi memiliki harapan akan kehidupan seseorang atau sekelompok orang yang sehat tetapi proses pemerolehannya tidak dikenal sebagai cara atau metode operasional kesehatan modern. Sementara itu ilmu kesehatan tradisional dengan mudah dapat menjabarkan secara leluasa fungsi dan manfaan ritual sebagai sarana pencegahan suatu penyakit.
Satu hal yang relevan dan memiliki alasan yang masuk akal menurut kesehatan modern adalah promosi kesehatan dengan menggunakan perawatan tubuh dan ramuan tradisional. Pemakaian unsur-unsur alam berupa mineral, hewan maupun tumbuhan dikenal oleh ilmu kesehatan modern sebagai cara untuk memperoleh kesehatan. Bahkan ilmu pengobatan modern sampai saat ini banyak yang mendasarkan pada penggunaan unsur alam sebagai cara memperoleh kesehatan. Karena unsur alam diketahui mengandung senyawa tertentu yang berkhasiat untuk penyembuhan atau peningkatan derajat kesehatan..
Sekalipun tidak bergayut langsung dengan ilmu kesehatan modern, tetapi unsur-unsur budaya masyarakat yang dapat dikelompokkan dalam pencegahan dan promosi kesehatan dapat diterima secara logika. Dalam aspek tata letak bangunan, nilai tradisional yang dikenal sebagai taneyan lancang memperhatikan unsur penataan bangunan yang sehat. Apalagi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik semata, melainkan juga aspek sosial dan ruhani. Pola hubungan antara manusia dengan lingkungan sosial dapat mencapai taraf kesehatan sosial dengan dibina oleh pranata sosialnya. Taneyan lancang merupakan salah satu produk pranata sosial yang memberikan kemungkinan untuk mencapai kesehatan sosial. Alasan yang sama dapat diberlakukan pada aspek kesehatan ruhani. Pemahaman masyarakat terhadap alam tidak hanya terbatas pada alam nyata (dunia) saja, tetapi meliputi dunia ghaib. Dunia ghaib memiliki kontribusi pada terpeliharanya kesehatan yang manifest pada tubuh sebagai perwujudan alam nyata. Aspek ritual dan seremonial masyarakat merupakan pengejawantahan dari interaksi alam nyata dan alam ghaib yang keseimbangnnya berdampak pada terpeliharanya kesehatan dan terhindarnya dari berbagai gangguan kesehatan.
Lihat Juga Artikel lain dengan cara meng KLIK di bawah ini :
http://globalsearch1.blogspot.com/
http://peluangusahamakro.blogspot.com/
Lihat Juga Artikel lain dengan cara meng KLIK di bawah ini :
http://globalsearch1.blogspot.com/
http://peluangusahamakro.blogspot.com/
.jpg)

0 comments:
Post a Comment