Konsepsi pencegahan terhadap penyakit ini pertama-tama dimulai dari lingkungan rumah. Komponen rumah yang perlu mendapatkan perhatian agar dapat menghindarkan dari berbagai ancaman (termasuk penyakit) adalah pemilihan tempat dan pengaturan letak bangunan (tata letak) atau yang dikenal sebagai hong sui dalam kebudayaan China.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Madura mengenal dua hal yang harus dihindari (menjadi pantangan) dalam memilih tempat untuk perumahan, yaitu :
- Tempat (tanah) yang “nombak lorong” : yaitu tempat yang berhadapan lurus dengan jalan umum, baik jalan besar ataupun kecil. Tempat seperti ini akan memungkinkan pintu rumah atau pintu pekarangan rumah akan berada lurus dengan arah jalan. Tempat seperti ini menurut keyakinan orang madura akan memberikan kegoncangan dalam hidup, termasuk penyakit.
- Tempat (tanah) yang “nombak tobun”. Tobun adalah sawah atau ladang. Nombak tobun artinya berhadapan lurus dengan sawah atau ladang. Menurut kepercayaan, tempat yang demikian akan menyebabkan penghuninya mudah terserang penyakit.
Masih ada konsep lain yang ditemukan di desa Gadu Barat Ganding Sumenep yaitu konsep “Nombak Songai” dan “Nombak Soksok”. Nombak Sungai adalah posisi rumah atau bangunan rumah yang berada di pinggir sungai dan lurus dengan sungai yang memanjang dari arah manapun, walaupun akhirnya sungai tersebut berbelok di samping pekarangan rumah. Sedangkan “Nombok Soksok” adalah selokan panjang dan lurus dengan bangunan rumah.
Hasil penelusuran terhadap kepatuhan masyarakat terhadap konsepsi tradisional ini menunjukkan bahwa masyarakat masih sangat mematuhi 4 konsep di atas. Terdapat dampak ekonomi pada keempat posisi yang tidak diharapkan yaitu mengakibatkan harga tanah yang berada di posisi nombak tabun, lorong sungai dan nombak soksok setingkat dengan tanah bukan pekarangan, harga tanah pekarangan bisa 2x lipat tanah lain (tidak cocok buat pendirian rumah), apalagi di pinggir jalan raya bisa 4x lipatnya.
Apabila seseorang membangun rumah yang berada di nombak tabun, lorong, sungai dan soksok, maka seluruh penghuninya akan terjangkit penyakit aneh karena pengaruh jin/syetan terutama ketika tidur, terjangkit penyakit yang sulit obatnya dan akhirnya mati satu persatu (malespes: Madura), ekonominya seret atau mudah tapi tidak barokah/tidak cukup untuk makan (tak seral berkat). Akibat lain adalah mudah diguna-guna/disihir/disantet. Beberapa responden menyatakan : “bahwa jalan panjang tabun, sungai dan soksok yang memanjang merupakan jalan utama para jin dan syetan sehingga orang yang membangun rumah berada lurus/nombak dengan salah satu di atas berarti telah memotong jalan syetan/jin atau mengganggunya, maka mereka tidak akan terima dan sepanjang orang tersebut berada di rumah tersebut terus menerus diganggunya sebagai pembalasan jin atas kesewenang-wenangan manusia”.
Sementara itu ada posisi tempat mendirikan rumah yang menjadi idaman orang madura ialah pancoran emas, yaitu tanah di dataran yang agak miring ke timur laut. Posisi ini jika didapatkan menyebabkan penghuninya memperoleh kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Umumnya masyarakat masih mengetahui konsep Pancaran Emas. Menurut mereka tanah yang masuk kategori pancoran emas adalah tanah yang asli atau secara geografis memang berposisi miring ke timur laut, bukan rekayasa manusia seperti pancoran (jalan keluar air) di atap Ka’bah.
Masyarakat masih sangat mematuhinya karena apabila seseorang membangun rumah di tanah pancoran emas semua usaha ekonominya diyakini akan berhasil dan sukses, hartanya dengan mudah datang tanpa diduga sehingga dengan ia akan “Tekah Hajet” (mudah naik haji). Semua usahanya barokah (sera’ berkat: Madura) tidak usah banyak, pasti akan lebih dari kebutuhan sehari-hari, penghuninya bakal tentram, akur dan sakinah serta terhindar dari segala penyakit yang datang dari syetan.
Dari aspek tata letak bangunan (arsitektur), orang Madura mengenal konsep taneyan lanjang. Konsep penataan pemukiman secara adat ini menurut Rifai (1994) menyiratkan kearifan lingkungan karena tata letak bangunan rumahnya diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan terjadinya sirkulasi udara dengan baik dan menyisakan halaman yang panjang. Taneyan lanjang ini menyiratkan penataan ruang yang berwawsan kesehatan lingkungan. Kompleks pemukiman yang masih mengindahkan warisan leluhur ini mudah kita jumpai di pelosok desa di Sumenep. Sementara itu di daerah perkotaan atau pinggiran jalan sudah jarang ditemukan.
Disamping konsep taneyan lanjang, orang madura juga memiliki konsep lain yang terkait dengan pengaturan pekarangan dan sumur serta rumah. “Konsep Pangkalan” dan pengaturan bangunan dalam pekarangan dan sumur. Ada kepercayaan lain dalam membuat jalan masuk pekarangan rumah dimana setiap sisi pekarangan harus dibagi 9 dan setiap bagian tersebut memiliki pengaruh atau khasiat tersendiri bagi penghuninya baik negatif maupun positif, termasuk aspek kesehatan.
Beberapa hal yang relevan untuk dilaporkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Kemiringan tanah menurut masyarakat Madura memiliki kecenderungan yang bermacam-macam termasuk pancoran emas, tetapi banyak juga lainnya. Macam-macam kemiringan bumi untuk pekarangan di antaranya. Bumi dan tanah miring ke timur pertanda bagus, kaya harta dan emas. Bumi atau tanah miring ke barat pertanda jelek, banyak penyakit dan penghuninya sering bertengkar. Tanah miring ke utara pertanda bagus karena kuat, amal banyak dan apabila diberi takdir kekayaan maka akan turun pada anak cucunya. Tanah miring ke selatan pertanda jelek karena suka dibenci tetangga.Tanah miring ke barat dan ke timur / tinggi di tengah pertanda bagus seumur hidup dan banyak harta.
Untuk memperoleh dampak kesehatan bagi penghuninya maka dalam membangun rumah masyarakat Madura tidak dapat dilepaskan dengan tradisi upacara selamatan. Upacara selamatan dalam membangun rumah di Madura banyak macamnya antara desa berbeda-beda.
Lihat Juga Artikel lain dengan cara meng KLIK di bawah ini :
http://globalsearch1.blogspot.com/
http://peluangusahamakro.blogspot.com/
Lihat Juga Artikel lain dengan cara meng KLIK di bawah ini :
http://globalsearch1.blogspot.com/
http://peluangusahamakro.blogspot.com/

0 comments:
Post a Comment